Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Melarikan diri ?


[Artikel 13#, kategori Amir] Mengapa manusia melarikan diri? Saya coba tanya ke Google, hasilnya tidak ada yang sesuai apa yang saya inginkan. Segitu terjerembab kah? Perasaan yang dialami seseorang sampai - sampai mereka lupa makna memperbaiki diri sebagai manusia.

Entah kenapa dejavu kembali lagi menghantui perasaan saat ini. Saya bukan orang jahat, atau orang yang suka memainkan kekuasaan layaknya sebuah film di televisi. 

Saya hanya sedang tidak terima dengan keadaan di mana seseorang terlibat di dalamnya. Marah, benci dan pergi. Seperti titik nadir yang akhirnya meluap karena keseringan terbebani. Pecah, gemuruh dan lusuh.

Melihat ketidaknyamanan yang dirasa dan mengatakan berkali - kali bahwa itu salah, tidak membuat pikiran yang disampaikan dapat diterima. Keadaan terus berulang - ulang dilakukan. Yang ada, saya berubah menjadi Hitler seakan menjadi pemimpin yang ditakuti dan kejam.

Keadaan ini pernah saya alami pada momen tertentu. Saya menjadi biduk yang digeser sana sini mengikuti kemauan sang Raja. Kondisinya memang tidak nyaman. Bahkan tidur dengan kepala di atas bantal saja itu sudah mewah rasanya.

Melarikan diri mungkin jawabannya bagi mereka yang sudah tidak menemukan jawaban atas apa yang sudah dilakukan. Sebagian mungkin beranggapan bahwa itu dapat menyelesaikan masalah. Setidaknya, melepaskan beban karena merasa tersakiti.

Bagaimana dengan saya? Tidak pernah bermaksud menjadi jahat malah akhirnya membuat sakit hati orang yang mengaku paling berbakti.

Sedih, dan sepertinya saya mulai berhenti berbicara tentang apa yang namanya kata baik tersebut. Baik memang sangat berat sekali dijadikan bagian dalam kehidupan ini. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini