Melarikan diri ?


[Artikel 13#, kategori Amir] Mengapa manusia melarikan diri? Saya coba tanya ke Google, hasilnya tidak ada yang sesuai apa yang saya inginkan. Segitu terjerembab kah? Perasaan yang dialami seseorang sampai - sampai mereka lupa makna memperbaiki diri sebagai manusia.

Entah kenapa dejavu kembali lagi menghantui perasaan saat ini. Saya bukan orang jahat, atau orang yang suka memainkan kekuasaan layaknya sebuah film di televisi. 

Saya hanya sedang tidak terima dengan keadaan di mana seseorang terlibat di dalamnya. Marah, benci dan pergi. Seperti titik nadir yang akhirnya meluap karena keseringan terbebani. Pecah, gemuruh dan lusuh.

Melihat ketidaknyamanan yang dirasa dan mengatakan berkali - kali bahwa itu salah, tidak membuat pikiran yang disampaikan dapat diterima. Keadaan terus berulang - ulang dilakukan. Yang ada, saya berubah menjadi Hitler seakan menjadi pemimpin yang ditakuti dan kejam.

Keadaan ini pernah saya alami pada momen tertentu. Saya menjadi biduk yang digeser sana sini mengikuti kemauan sang Raja. Kondisinya memang tidak nyaman. Bahkan tidur dengan kepala di atas bantal saja itu sudah mewah rasanya.

Melarikan diri mungkin jawabannya bagi mereka yang sudah tidak menemukan jawaban atas apa yang sudah dilakukan. Sebagian mungkin beranggapan bahwa itu dapat menyelesaikan masalah. Setidaknya, melepaskan beban karena merasa tersakiti.

Bagaimana dengan saya? Tidak pernah bermaksud menjadi jahat malah akhirnya membuat sakit hati orang yang mengaku paling berbakti.

Sedih, dan sepertinya saya mulai berhenti berbicara tentang apa yang namanya kata baik tersebut. Baik memang sangat berat sekali dijadikan bagian dalam kehidupan ini. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Flower, Drama Korea Tentang Kehebatan Jang Hyuk yang Selalu Dapat Menyelesaikan Masalah