Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ketika Bloger Disamakan dengan Netizen


[Artikel 89#, kategori bloger] Sungguh terlalu bila ada lagu bang Rhoma yang terdengar di telinga melintas begitu saja. Bloger meski bagian dari masyarakat pengguna internet yang disebut Netizen, tidak semua dapat disamaratakan. 

Bloger memiliki dunia yang berbeda karena sudah dibekali banyak pengetahuan seperti jurnalis, pemasaran, menulis, etika online dan masih banyak lagi. Mungkin harus dikoreksi dulu, pendapat Anda.

Tiba - tiba saja jadi jengkel dalam sebuah acara yang menyebut bloger itu bla .. bli..blu.. Seolah semua sama, namun reaksi keras saya ini hanya saya bagikan kepada rekan-rekan bloger yang lain yang juga hadir di acara. 

Menyindir orang tersebut yang merupakan jurnalis senior tak ada untungnya. Itu hak dia dan sebagai bloger yang juga sering menyampaikan pendapat lewat tulisan, saya hanya ingin memahami sudut pandang yang dilemparkan dalam sesi diskusi tersebut.

Itu segelintir oknum 

Saya pikir ketika ada orang-orang yang berulah sebaiknya menggunakan istilah oknum. Karena bila semua dianggap sama, maka itu tidak baik. Menyebut istilah bloger, meski dalam ruang lingkup sebuah acara, tetap saja menyinggung semua bloger yang berada di luar acara juga.

Bukan di negara kita, negara luar juga. Banyak bloger yang saya kenal berjuang dengan kerja keras. Mereka mendedikasikan sesuatu yang akhirnya menjadi sebuah passion. Bloger juga sering berkorban untuk usahanya agar dianggap lebih baik.

Gambar : Ilustrasi
....

Saya tidak tahu seberapa berpengaruhnya istilah bloger dengan beliau. Namun saya harap, tidak semua dipukul rata bahwa bloger melakukan hal sama.

Orang yang menyebut diri sebagai bloger sekarang itu sangat mudah. Namun tidak semua bloger dapat dikatakan bloger hanya memiliki sebuah blog.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet