Catatan

Pria (Tidak) Berharga

Gambar
Saya melihat teman lama yang perutnya membuncit sedang menggendong anaknya. Terlihat senyumnya yang lepas seakan mengatakan bahwa dialah yang paling bahagia di dunia ini. Sebuah pesan kepada para lelaki bahwa ia sudah tiba digaris akhir seorang pria sukses. Lalu, kapan kamu? Entahlah, saya juga bingung mengapa saya berjalan tidak pada semestinya seperti para pria lainnya yang kerap kali membagikan momen-momen bahagianya dengan pasangan dan anak kesayangannya. Memiliki istri yang rupawan, apalagi setia, cakep tuh disebut keluarga kecil yang bahagia. Inilah kekurangan pada diri saya yang mengaku hebat dalam konsistensi, tapi sulit ekonomi. Pria (tidak) berharga Saya kembali memulai perjalanan baru sebagai pria yang kini menginjak usia 38 tahun. Apa yang akan terjadi sepanjang tahun, saya harap itu sangat berharga.  Di umur sekarang ini, saya percaya bahwa 'laki-laki sukses ada keluarga dibelakangnya yang hebat'. Saya merenung sesaat, andai saja saya bisa kembali mengulang waktu s...

Bapak yang Tidak Berubah

[Artikel 31#, kategori keluarga] Suara telpon via WhatsApp terdengar dengan nama yang tak asing. Saya pikir masalah uang yang dalam beberapa tahun melingkari keluarga ini sudah selesai. Eh, ternyata malah tetap saja. 

Dalam ajaran Islam, orang tua diharuskan dimuliakan oleh anak-anaknya. Betapa bencinya seorang anak terhadap orang tua, kita tetap harus berupaya mentoleran sikap mereka.

Namun saya tidak demikian. Semenjak Alm.Mamah pergi, saya pikir jalinan komunikasi dengan satu-satunya orang tua yang masih hidup, si Bapak sudah berjalan baik kembali.

Sikapnya menunjukkan ia adalah orang tua seperti kebanyakan. Meski begitu, saya masih tidak move on dari sifatnya yang sejak dulu berdampak negatif kepada keluarga. Terutama saya sebagai anak tertua.

Beliau baik, pekerja keras, berkorban untuk menuruti permintaan anak-anaknya dan banyak hal lagi yang saya sukai. 

Namun suara telepon terbaru yang menghubungi dengan tujuan uang, saya pikir beliau memang tidak pernah berubah sama sekali sejak dulu.

Penuh alasan dan drama. Padahal beberapa bulan lalu, mengatakan memiliki sejumlah uang yang sampai-sampai saya nggak pernah minta akhirnya meminta juga pada akhirnya.

Tentu, permintaan saya diberi waktu itu. Hanya saja sekarang kenapa malah terbalik. Uang yang dulu disebutkannya rupanya dipinjamkan ke orang lain, terutama perempuan.

Anehnya, sekarang beliau tidak ada uang sama sekali dan meminta pertolongan kepada anaknya. Dilema jadinya. Satu sisi saya lagi nggak punya uang, sisi lainnya beliau adalah orang tua kandung.

Alasan ia meminjam uang saya pikir karena ingin mengadakan acara selamatan buat alm. Mamah. Itu alasan yang sangat kuat dan akhirnya saya luluh dengan memberikan uang yang saya simpan untuk membayar cicilan Pay Later.

Itu adalah uang sisa dari pinjaman pay later dengan tujuan bisa membayar tiap bulan. Sangat berat memberinya, tapi keyakinannya ingin mengembalikan bulan depan, membuat saya sangat berharap yang dikatakannya akan dilakukannya.

Aneh sebenarnya beliau masih meminjam uang kepada anaknya ketika ia beberapa kali memamerkan hasil kerja kerasnya saat bekerja. 

Bahkan, hasil kerja kerasnya terus memanjakan si bungsu dengan alasan sayang anak. Saya yang sudah terbebani sudah setengah tahun tidak dapat lagi kiriman uang dari pemilik rumah benar-benar dibuat menderita dengan ulahnya.

Beliau terus meyakinkan bahwa uangnya jika dibayarkan oleh si peminjamnya akan langsung dikirim ke saya. Baiklah, mari jadi anak berbakti kali ini.

Dengan permintaan seperti ini saya mengetahui bahwa ia memang tidak pernah berubah jika sudah berurusan dengan uang. Tidak peduli alasan apa pun, termasuk kepada siapa pun dalam keluarganya.

Jika sampai tidak dikembalikan, cukup tahu saja berarti. Bukan karena tidak berbakti, tapi saya perlu buat membayar cicilan. 

📸 Referensi gambar dibuat dengan AI

...


Semenjak kepercayaan saya dikhianati adek-adek kandung saya, keluarga yang diidamkan banyak orang di dunia yang harmonis dan menyenangkan terasa menjengkelkan.

Mungkin ini alasan mengapa jadi anak kudu sukses setelah dewasa. Biar saat jadi kaya raya, uangnya bisa membantu sesama keluarga.

Namun dunia tidak bekerja sesederhana itu. Apalagi bukan pewaris, untuk perintis tidak akan mudah menjalaninya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

Akhirnya Mereka Mudik Juga

[Review] One Day, Film Korea Tentang Pertemuan Pria dengan Wanita Koma yang Menjadi Roh

Sifat Buruknya Pria 29 Tahun