Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dibercandain Saudara Sendiri

[Artikel 28#, kategori keluarga] Apa yang dikhawatirkan terjadi juga. Meski resikonya sudah diminimalisir, tetap saja dibercandain saudara sendiri sangat menyakitkan. Apalagi sudah menaruh harapan tinggi. Jika saudara sendiri melakukannya, lantas harus siapa lagi harus dipercaya. 

Saya, awal bulan April sudah sangat menyedihkan. Ibarat pepatah, sudah jatuh masih ketiban tangga. Saya menuai kesalahan yang tidak pernah saya lakukan hanya karena masih satu darah. Kejam sekali untuk orang normal seperti saya yang hanya berdiam di rumah sepanjang waktu.

Dibercandain

Maksud hati menolong karena sebagai anak pertama yang ingin hidupnya baik-baik saja, saya menuruti pikiran saudara saya yang sedang terjerembab masalah. Toh, apabila masalah dibiarkan berlarut-laraut, mau tidak mau nanti saya ikut terjerat karena dianggap bertanggung jawab.

Saya pikir masalahnya sudah beres ketika saya mengambil pinjaman online untuk dibayarkan. Ternyata hari h yang sudah disepakati antara saudara saya dan orang yang bermasalah, saudara saya mengingkari janjinya.

Uang pinjol yang seharusnya dibayarkan kepada orang tersebut bahkan dipakai sendiri. Lalu, orang tersebut mau tidak mau menghubungi saya. Dilematis jika begini. Saya sudah berusaha menolong, tapi dibercandain.

Saudara saya bahkan mengingkari juga kesepakatan untuk membayar perbulan pinjaman yang saya ambil. Sudah uang raup entah kemana, sekarang saya harus cari lagi uang untuk membayar utang orang yang nagih ke saudara saya.

Aset berharga saya yang belum saya gunakan dalam kurun waktu setahun terpaksa dijual. Dan masalah sepertinya belum juga usai, mengingat tagihan bulanan hingga tahun depan saya juga yang bayar.

Saya tidak tahu dosa apa yang dilakukan orang tua saya sampai-sampai ditipu saudara sendiri. Nasib menjadi kakak yang ingin dianggap baik malah jadi senjata makan tuan.

...

Saya tidak menyukai awal bulan ini, termasuk menceritakannya di sini. Namun ini akan saya jadikan pengingat bahwa saya sangat sangat jatuh. 

Jika keluarga sendiri begini, kepada siapa lagi saya harus berbakti. Hanya karena uang, sebagian orang-orang menjadi jahat.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini