Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tetangga Baru, Pasangan Muda

[Artikel 78#, kategori rumah] Tidak lama penghuni lama pindah, akhirnya rumah yang disewakan di sebelah sudah ada penghuni baru lagi. Entah sudah berapa kali rumah tersebut berganti-ganti penghuni. Kebanyakan yang sewa hanya menyewa 1 tahun saja, makanya tiap tahun saya akan melihat wajah baru.

Jika sebelumnya adalah keluarga besar, kali ini tetangganya adalah pasangan muda. Baru punya bayi dan sepertinya mereka sangat harmonis. Saya jadi iri melihatnya.

Cobaan usia 30-an

Melihat situasinya, saya seperti diberi gambaran besar bagaimana berumah tangga. Padahal tetangga lainnya juga rata-rata pasangan dengan beberapa anak yang lucu. Belum lagi, di rumah sendiri ada pasangan si bungsu yang juga baru punya bayi.

Saya seperti tertampar kenyataan untuk segera menyusul seperti mereka. Sudah dilatih dengan keadaan, melihat gambaran besar tapi kok masih adem-adem waye.

Saya juga inginnya segera menikah, apalagi dengan umur yang semakin kepala 40-an. Namun semua sekarang serba salah. Mau ngejar, khawatir bagaimana menjalaninya jika penghasilan saja masih kembang kempis.

Mau bahagiakan pasangan, tapi bahagiakan sendiri masih sulit. Berharap wanita kaya datang melamar itu hanya terjadi di film-film. Atau mengejar janda, tapi realitanya janda pun mencari yang kaya raya untuk membantu perekonomian mereka yang sudah tidak sendiri.

Dilema, bukan! Tapi saya pikir ini hanya terjadi kepada saya. Buktinya tetangga dan orang-orang sekitar yang sudah menikah, mereka baik-baik saja.

Saya sendiri yang terlalu berpikir sangat keras meratapi nasib. Jika bisa memutar ulang waktu, saya ingin jadi kaya sejak kecil. Karena tanpa kekuatan uang, semuanya sulit dilakukan.

Itu bukan berarti saya tamak atau terobesi. Dengan uang, saya bisa beli kebutuhan pokok rumah tangga, membayar listrik, bensin dan pengeluaran tak terduga.

...

Pada akhirnya saya curhat sendiri. Ah, sudahlah. Semoga saja tetangga ini bisa berhubungan baik dengan sekitar. Terkadang ada tetangga yang usil, mencari kesalahan yang seharusnya hal biasa dan seakan mencari kesalahan.

Selamat datang di tempat tinggal yang asri ini.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini