Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bulan Ketiga, Mendapatkan Harapan

[Artikel 6#, kategori Keuangan] Saat sedang akan berjalan dalam kegelapan, mendadak saja harapan itu datang. Seperti cahaya lampu kota yang menerani, bulan ini saya memiliki harapan. Apakah keberuntungan saya masih menaungi? Saya sangat bersyukur sekali.

Setelah bulan September ada pertolongan dari orang baik, bulan Oktober saya kedatangan beberapa acara atau event. Puja dan puji untuk itu karena kembali terselamatkan ketika kenyataan masih tidak sesuai harapan.

Ya, ini memasuki bulan ketiga bagaimana saya menjalani perekonomian yang sulit karena putusnya rejeki yang selama ini saya andalkan. 

Harapan

Saya memikirkannya sepanjang tahun tentang beberapa pihak yang dulu sering mengajak kerja sama, terutama liputan acara. Seperti perusahaan operator telekomunikasi hingga pengembang atau developer perumahan. Pihak-pihak tersebut adalah salah satu sumber penghasilan yang bisa memberi nafas lega.

Namun entah kenapa pihak-pihak ini seakan raib ditelan bumi. Alhasil, penghasilan yang diharapkan menjadi kekeringan yang ditambah pukulan telak bahwa orang rumah sudah tidak seperti dulu mengirimkan uang untuk membayar tagihan bulanan.

Sial, saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karna ini murni kekurangan saya dalam melihat masa depan yang begitu terlena dengan dotsemarang.

Tapi begitulah hidup. Saat sekarat dan bersiap memasuki kegelapan, kita tertolong oleh keberuntungan yang tak pernah bisa ditebak. Mendadak saja saya dihubungi oleh pihak-pihak yang saya pikirkan tersebut, entah itu developer perumahan atau operator telekomunikasi.

Seperti sehabis berbuka puasa, ada perasaan lega dan bahagia. Apakah ini yang dikatakan orang untuk tetap hidup seperti air mengalir. Biarkan itu terombang-ambing, namun tetaplah tegar dan bertahan.

Karena hidup selalu ada garis akhir. Dan garis akhir saya masih panjang untuk menyerah meski semesta tidak mendukung.

...

Sejenak biarkan saya mengambil nafas dalam-dalam. Menghembuskannya dan menarik kembali. Ketika pikiran sudah agak tenang, dengarkan isi pikiran terdalam.

Jangan terlalu senang dulu, bulan depan belum tentu mendapatkannya kembali (harapan). Teruslah bekerja keras dan biarkan waktu yang menjawab. Tak perlu ditunggu atau dinanti, ikuti arusnya saja.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger