Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bulan Kedua ?

[Artikel 5#, kategori Keuangan] Setelah ditampar kenyataan bahwa jalan ke depan tidak mulus lagi, akhirnya saya pasrah dengan keadaan. Masuk ke bulan kedua runtuhnya perekonomian yang selama ini saya andalkan. Kini, harapannya cuma satu. Apakah harus saya jual juga laptop yang saya miliki?

Akhirnya bulan Agustus terlewati di mana saya memprediksi masa depan saya tidak baik-baik saja. Meski begitu, saya masih berharap ada keajaiban dan itu hanyalah mimpi di siang bolong saja.

Maksudnya bulan September ini semua kembali normal. Tagihan bulanan rumah yang jadi salah satu pemasukan terbesar saya bisa dikirimkan kembali ke rekening.

Ah, tidak! Ternyata memang tidak bisa. 

Diambil alih

Sebuah pesan panjang akhirnya tiba yang memastikan bahwa keuangan rumah diambil alih oleh anak si pemilik rumah. Ia akan bertanggung jawab ke depannya.

Kabar cukup baik seharusnya. Namun tidak dengan saya yang akan paling terdampak. Dulu saat normal, saat dikirimin pembayaran tagihan bulanan rumah, saya masih bisa berharap akan ada uang lebih yang bisa dipakai. Tidak banyak memang, tapi cukup untuk beli beras 5 kg.

Dengan pengambil alihan seperti yang terjadi di bulan kedua (September), itu artinya tidak ada pemasukan yang akan saya kantongi. Jangankan Rp1.000, buat menghiasai isi dompet saja rasanya sulit.

Saya tidak berharap banyak dari pekerjaan sebagai bloger yang Senin Kamis. Kadang ada, kadang tidak. Jika dapat pun, harus nunggu pembayaran hingga lebih satu bulan. Sedangkan keuangan yang stabil atau rutin adalah kiriman (tagihan bulanan). 

...

Periode itu akhirnya tiba. Sesuatu yang saya selalu khawatirkan sejak dulu. Apakah ini jawaban dari doa-doa saya yang selalu meminta diperlancar rejeki? Tidak, tidak. Ini malah sebaliknya.

Rencana saya keluar dari rumah ini di usia 40 tahun, seakan makin dipercepat. Tapi saya ragu karena saya belum punya tabungan. Jangankan tabungan, saya sudah dipaksa tiap bulan harus bayar cicilan dulu.

Mungkin sudah jalannya untuk kembali harus menjual perangkat kesayangan. Saya harap jika ada kesempatan mengulang kehidupan kedua, saya ingin berusaha lebih baik lagi sejak dini.

Mari saling mengkhawatirkan masing-masing.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini