Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Benci Makan Roti Hari Ini

[Artikel 79#, kategori motivasi] Entah apa yang dipikirkan ketika memaksakan hasrat untuk membeli roti ini yang harganya sama dengan 1 Kg beras. Padahal jika dalam kondisi normal, saya pasti akan memilih membeli beras saja. Menyesal selalu datang belakangan dan saya berjanji tidak akan mengulanginya kembali

Di saat keuangan lagi seret, ada saja kelakuan saya yang absurd. Satu sisi ingin hidup hemat dan terlihat apa adanya, namun sisi lain ingin menikmati yang namanya rasa lezat dari kenikmatan sesaat. Arghh... 

Bukan apa-apa. Itu karena roti yang dibeli menggunakan pay later. Jika dipakai lagi, nominalnya akan terus bertambah. Sedangkan pemasukan saja masih harap-harap cemas.

Saya tertampar dengan kenyataan bahwa saya adalah orang yang munafik. Ingat tagihan bulanan Seabank Pinjam yang harus masih dibayar tiap bulan kata pikiran dalam kepala saya. Bersabarlah dan tahan untuk membeli. 

Rasa lapar

Seharusnya saya membeli makanan lain saja jika hanya ingin mengisi perut yang keroncongan usai bersepeda ke Kota Lama hari ini, Kamis (5/9). Kenyataanya saya terdorong nafsu sendiri seakan di atas kepala saya ada yang membisikkan bahwa saya harus melakukannya.

Keterlaluan memang, tapi mau gimana lagi. Kesalahan terbesar hari ini adalah tidak memasak nasi karena isi rice coocker sudah ada nasinya. Jadinya saya hanya mengambil separuh dan itu hanya buat sekali makan.

Anda saya bisa mengulang waktu, nasi di rice coocker tersebut mending saya keluarkan dulu dan menanak nasi baru lagi. Saya membuat menderita diri sendiri saja. Saya benar-benar khilaf. Dan memutuskan sejak hari ini untuk berhenti makan roti. 

Oh ya, alasan saya membeli memang karena lapar usai bersepeda dari pagi. Rutenya rumah ke Kota lama dan balik. Kemudian langsung bersih-bersih halaman (nyapu dan siram rumput). Kondisinya seperti itu, makanya ketika lihat jam sudah menunjukkan jam 9, itu benar-benar lapar. 

...

Saya sengaja tidak menutupi merek roti yang saya beli ini. Tapi, bukan karena saya tidak menyukai rotinya. Namun sikap saya yang membuang-buang uang. Padahal isi dompet lagi kosong dan mau tak mau malah pakai pay later. Saya mengkhianati diri sendiri rasanya yang berkomitmen untuk menghemat.

Bulan September baru saja dimulai, ada-ada saja yang saya perbuat.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini