Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Futsal Mulai Sepi Gara-gara Mini Soccer?

[Artikel 151#, kategori futsal] Kamis terakhir di bulan September (26/9), harus ditutup dengan keringat yang berlebih. Menegok bangku tribun yang hanya menyisakan 1-2 orang terasa sedih. Entah kenapa akhir-akhir ini rekan-rekan mulai malas datang. Jika hanya alasan kepentingan keluarga masih wajar tidak datang, tapi kali ini sepertinya bukan.

Setelah lebih dari 4 tahun berkarir sebagai pemain futsal, eh bermain maksudnya, kehadiran mini soccer memang sangat berpengaruh sekali. Apalagi makin ke sini, tarif iurannya hampir sama antara futsal dan mini soccer. 

Padahal kita tahu main mini soccer biaya sewanya sangat mahal ketimbang futsal. Dan mau nggak mau iuran perorangnya juga lebih besar jatuhnya ketimbang harus bermain futsal. Alasannya karena di Kota Semarang lapangan mini soccer terus bertumbuh (banyak).

Memang faktor lainnya juga mempengaruhi, tapi dalam 4 tahun belakangan kehadiran mini soccer benar-benar mengubah gaya hidup orang-orang di sekitar. Entah bagaimana dengan kota lainnya semenjak kehadiran mini soccer.

Bagi saya sendiri, mini soccer memang adalah pengalaman baru yang menarik. Namun karena biaya iurannya yang mahal, jadi salah satu alasan saya untuk tetap bermain futsal saja.

Toh, bermain lapangan lebih besar sudah saya lakukan sejak duduk di bangku Sekolah. Mini soccer hanya tentang tren dan pengalaman bermain dengan waktu yang sangat fleksibel saja.

Saya berharap futsal dan mini soccer tetap beriringan. Namun jika tidak bisa, semoga saja futsal tidak menghilang. Saya jadi tidak enak sendiri dengan sedikitnya yang hadir di lapangan.

Maklum, saya pemain bayaran. Bukan digaji, tapi dibayarin iuran bulanannya. Apakah saya harus mencari alternatif lain berolahraga? Atau malah senang futsal tiada karena jam tidur saya akan maksimal?

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini