Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Masak Nasi Dini Hari ?

[Artikel 120#, kategori aktivitas] Sudah hampir 2 bulan saya menjalani aktivitas baru tiap bangun dini hari yang biasanya sekitar pukul 2 pagi. Padahal dulu saya hanya fokus untuk dotsemarang. Eh, sekarang segalanya telah berubah seiring waktu. Ngapain masak nasi jam segitu?

Di umur sekarang, saya tidak ingin ribet dan malas berdebat. Saya hanya ingin hidup damai dalam keheningan. Menikmati rutinitas dan bersantai tanpa peduli sikap seseorang.

Masak nasi

Gara-garanya karena rasa tidak enak dengan keadaan yang semakin ke sini semakin tidak nyaman. Saya tidak tinggal sendiri sekarang. Ada pemilik rumah juga yang tinggal.

Keadaan tersebut memaksa saya harus sedikit berkorban antara perasaan dan ingin damai. Apalagi status saya bukan pemilik rumah dan kastanya tidak lebih tinggi dari keluarga yang tinggal.

Ketidaknyamanan membuat saya berganti haluan dan sekarang itulah yang saya lakukan tiap hari seusai bangun dini hari. Masak nasi, buat kopi, air panas dan kemudian mandi. Yang penting lainnya, mengisi air di tandon penampungan. Semenjak pelampung otomatisnya mati, terpaksa dilakukan dengan cara manual.

Saya mengandalkan beras 1 Kg yang saya beli sendiri dan diusahakan dapat digunakan untuk 1 minggu. Semua benar-benar berubah semenjak pemilik rumah sudah tidak lagi memberi fasilitas seperti dulu lagi.

Maklum buat kami yang seharusnya sudah mandiri secara finansial memang kudu berjuang sendiri sekarang. Untunglah saya terbantu dengan sifat konsisten bangun pagi tiap hari sehingga baik-baik saja melakukan hal baru seperti memasak nasi.

Nasi yang telah mateng lalu saya simpan di toples merah. Itu akan jadi hari yang panjang karena nasi tersebut untuk sarapan pagi dan makan siang. Meski terkadang tidak cukup juga dan beberapa kali mengeluh kelaparan.

Saya mentertawakan diri sendiri hari ini, entah di masa depan. Apakah ini lucu atau menyedihkan. Saya sanggup dan saya kuat. 

Seni bertahan hidup yang cukup aneh untuk dibanggakan. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger