Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Akhirnya Potong Rambut

[Artikel 3#, kategori lifestyle] Akhirnya potong rambut juga setelah hampir 4 bulan terbelengkalai karena alasan tidak punya uang. Sebenarnya rejeki ada aja sih, tapi pioritas lebih memilih isi perut ketimbang hidup lebih elegan (rambut). Tujuan potong rambut kali ini punya misi khusus sebenarnya. Penasaran?

Senin terakhir di bulan Oktober (28/10), pulang futsal sore langsung saya teruskan menuju tempat potong rambut yang kebenaran satu jalur pulang. Niat potong rambut kali ini begitu bar-bar karena sudah tidak ketahan lagi.

Konten

Saya sebenarnya sudah cukup mampu menahannya untuk tidak potong rambut. Bahkan saya mengakalinya dengan memakai topi apabila sedang bermain futsal.

Namun kali ini ada misi yang diemban, yaitu buat artikel untuk blog dotsemarang. Era pembayaran non tunai lewat QRIS rupanya juga sudah menggrogoti tempat potong rambut. Bukan hanya tempat yang eksklusif, tapi juga yang biasa.

Saya sangat tertarik dengan cara pembayaran tersebut. Dengan misi tersebut, dalih saya ingin hemat terabaikan. Toh, saya bisa potong rambut tanpa ngeluarin uang tunai. Duh, tambah lagi beban bayar bulanan pay later.

Tidak rekomendasi gaya two block

Pengalamannya nanti akan saya tulis di blog dotsemarang. Ditunggu saja bagaimana pembayaran non tunai jadi bagian penting dalam bisnis potong rambut.

Saat tiba di tempat potong rambut, hujan mengguyur. Saya tahu bahwa tubuh saya baru saja berkeringat sehabis main futsal, saya harap karyawan yang potong tidak merasa canggung karenannya.

Tapi saat melihat sosoknya menggunakan masker yang sepertinya semua pegawai di sana juga memakainya, saya sedikit tenang. Berarti aroma tubuh saya tidak tercium. Ini adalah kesempatan, jika harus pulang dulu dan menundanya nanti-nanti, pasti saya tidak akan jadi potong rambut.

Saat ditanya ingin potong rambut model apa, saya menjawab seperti biasa, yaitu two block. Potongan dengan gaya rambut poni di atas alis mata dan sisi kepala kanan kiri hingga belakang dipangkas tipis.

Namun baru kali ini saya tidak dianjurkan karna tidak cocok dengan bentuk kepala dan wajah. Sepertinya karyawannya memiliki pengalaman lebih hebat dari beberapa orang yang biasa memotong rambut saya.

Ya, biarlah. Yang penting saya mengatakan referensi bahwa saya ingin dipangkas pendek dan poni tetap ada, tapi di atas alis mata. Maklum, saya suka bermain futsal. Posisinya sering kali jadi kiper dan rambut yang mengenai mata terkadang mengganggu penglihatan.

...

Seperti yang kamu lihat di gambar di halaman ini. Ini adalah gaya rambut terbaru saya dan akhirnya saya meninggalkan topi yang hampir 2 bulan belakangan selalu dikenakan tiap bermain futsal.

Awalnya saat di tempat potong rambut, saya sedikit kurang menyukai hasilnya. Tapi karena tujuannya hanya ingin memangkas saja dan sudah benar, yasudahlah. Tidak perlu diambil pusing.

Namun setelah beberapa hari di rumah, kok cocok. Haha...

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger