Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

⚽ Pengalaman Pertama Mini Soccer di Bulan Puasa Bareng Sanmaru FC

[Artikel 21#, kategori mini soccer] Ini menjadi pengalaman pertama saya merasakan atmosfer mini soccer di bulan Ramadan bersama Sanmaru FC. Tim yang terbentuk pertengahan September tahun lalu ini punya sejarah unik; awalnya merupakan gabungan dari dua tim futsal, PKBF dan Fusam. Menyenangkan, meski untuk sampai ke lapangan kali ini butuh perjuangan ekstra dengan segala "bumbu" perjalanannya.

Jika dihitung, hampir setengah tahun tim ini berjalan. Gairahnya bukannya meredup, malah semakin besar. Tak peduli cuaca sedang ekstrem, hujan atau badai, keinginan untuk merumput tetap membara.

Bahkan, tantangan bulan puasa yang biasanya membuat fisik cepat lelah, tidak menghalangi hobi rekan-rekan di Sanmaru FC. Termasuk saya sendiri. Jujur, meski saya bukan penganut agama yang taat, bermain di bawah sorot lampu lapangan malam hari terasa sangat bermanfaat. Di usia yang tak lagi muda, aktivitas fisik seperti ini menjadi cara saya membatasi diri dari kemalasan.

Pertemanan di Usia Kepala Empat

Terkadang saya merasa iri melihat beberapa rekan di tim ini. Hubungan mereka sudah terjalin sangat lama—mungkin sejak bangku sekolah, kuliah, atau teman masa kecil di kampung. Ikatan mereka persis seperti cerita di film-film; awet dan kekal sampai tua.

Bagi saya yang sudah menginjak usia 40 tahun, mencari pertemanan baru tentu bukan perkara mudah. Jangankan mencari koneksi baru, terkadang saya justru lebih sering berpikir untuk berdiam diri saja di kamar. Toh, rasanya semua fase hidup sudah terlewati. Apalagi yang dicari dalam sebuah pertemanan di usia senja? Namun, berada di tengah tim ini sedikit mengubah perspektif tersebut.

Tantangan Rutinitas Selama Ramadan

Sebenarnya, aktivitas harian saya saat puasa maupun tidak, hampir serupa. Saya terbiasa bangun dini hari, bergulat dengan layar komputer, mengurus taman rumah, lalu kembali duduk manis di depan laptop.

Namun, Ramadan kali ini terasa sedikit lebih sulit. Alasannya sederhana: manajemen waktu. Setiap sore, saya sudah harus berada di masjid untuk mencari tempat duduk, mendengarkan ceramah, dan menikmati menu berbuka puasa.

Waktu yang biasanya luang kini terasa menyempit. Apalagi jadwal mini soccer terkadang membuat saya baru sampai di rumah pukul 10 malam. Secara fisik dan mental, saya merasa sehat karena bisa tertawa lepas bersama rekan-rekan. Tapi risikonya, aktivitas utama saya di dotsemarang jadi agak keteteran.

Berkah dan Realita di Balik Lapangan

Meski jadwal padat, saya percaya bisa melewati semuanya. Ada kenikmatan tersendiri selama bulan puasa yang membuat saya bahagia. Salah satunya adalah efisiensi; beras yang biasanya habis sekilo dalam seminggu, kini bisa bertahan lebih lama.

Ini adalah keajaiban puasa, meski saya akui tidak selalu bisa menjalankan ibadah puasa secara penuh. Trauma asam lambung menjadi kendala yang sulit dilupakan, padahal saya sadar ini adalah kewajiban. Saya teringat ucapan seorang habib saat menyimak ceramah buka puasa di Masjid Agung Semarang (Kauman), bahwa meninggalkan puasa tanpa uzur adalah dosa besar. Sebuah pengingat yang cukup menampar bagi saya.

...

Selain bersama Sanmaru FC yang rutin bermain setiap Kamis malam, rutinitas ini juga berlaku saat bermain bersama Guambo FC setiap Senin malam.

Alhamdulillah, rezeki di bulan puasa ini luar biasa nikmat. Saya mendapatkan sehatnya, sesekali beruntung ditraktir jajanan setelah main, dan yang terpenting, kesehatan mental saya terjaga selama bisa merumput bersama mereka.

Sehat selalu untuk kita semua.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Half Girlfriend, Film India Tentang Pria yang Jatuh Cinta dan Tidak Mau Menyerah