Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🚰 Mendadak Pompa Air Mati: Sebuah Ujian Kesabaran di Balik Dinding Rumah

[Artikel 89#, kategori rumah] Awalnya saya mengira ini hanyalah dampak dari hujan deras yang mengguyur kemarin. Namun, setelah berhari-hari berlalu, suara dengung pompa yang biasanya setia mengisi kesunyian rumah mendadak hilang. Bahkan, si bungsu yang seminggu lalu mudik kini sudah kembali berada di rumah, namun mesin itu tetap membisu. Apa yang sebenarnya salah?

Mesin pompa air yang sudah terpasang sejak pertama kali rumah ini berdiri tampaknya telah mencapai masa kedaluwarsanya. Ternyata bukan cuma ponsel yang punya siklus hidup terbatas sekitar lima tahunan; mesin pompa pun demikian. Saya sendiri sampai lupa sudah berapa lama umur mesin itu menemani perjalanan rumah ini sejak pertama kali saya tinggali.

Ikhtiar Memanggil Tukang

Langkah pertama yang saya ambil adalah memanggil kenalan yang sudah lama berprofesi sebagai tukang. Berbekal jam terbangnya, saya menaruh harapan besar beliau paham solusi masalah ini. Sempat ada titik terang saat si tukang mencoba mengutak-atik mesin, bahkan sampai membeli lem khusus untuk memperbaiki bagian tertentu pada komponen pompa.

Angin segar itu sayangnya hanya bertiup sebentar. Pompa yang sempat menyala kembali itu tiba-tiba mati total saat disambungkan kembali ke pipa air. Vonis si tukang cukup telak: mesin pompa memang sudah tidak kuat lagi menarik air. Tenaganya sudah habis, dan memperbaikinya kembali adalah hal yang sulit.

Bertahan dengan Cara Konvensional

Keinginan untuk segera mengganti dengan unit baru tentu ada. Namun, niat tersebut tertahan karena si bungsu merasa anggaran yang dimilikinya belum mencukupi. Maklum, membeli pompa air bukan perkara mudah seperti membeli kopi saset di warung. Harga paling ekonomis mungkin di kisaran 300 ribuan, tetapi melihat kondisi teknis di tempat tinggal saya, spesifikasinya perlu diperhitungkan matang-matang. Menurut saran tukang, minimal harus membeli yang harganya di atas 600 ribuan agar awet dan bertenaga.

Karena keputusan membeli unit baru masih ditunda, saya dan si bungsu mencoba bertahan dengan sisa air yang ada di tandon. Namun, cadangan itu tentu ada batasnya. Akhirnya, saya yang kini sudah berpindah ke kamar bawah, mau tidak mau harus kembali ke cara konvensional: memanfaatkan tandon air di taman rumah dengan cara menimba air secara manual.

Entah sampai kapan situasi ini akan bertahan. Setidaknya, selama istri si bungsu dan anak-anaknya belum kembali ke rumah, ritme penggunaan air masih bisa dikendalikan. Sekarang, tugas saya hanyalah bersabar sembari menunggu waktu yang tepat untuk menjemput pompa air yang baru.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🫘 Seni Bertahan Hidup dengan Tempe: Cara Mengatur Anggaran Dapur