Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

🚗 Mudik Tahun 2026

[Artikel 19#, kategori lebaran] Tahun ini, keputusan saya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya: menetap di Kota Semarang. Alasan ekonomi tetap menjadi faktor utama yang klasik, bahkan terasa kian berat dengan bayang-bayang beban finansial yang menghimpit. Di saat keluarga lain sibuk menyiapkan koper, saya justru tetap di sini, bergelut dengan rutinitas yang itu-itu saja.

Sepekan menjelang Idulfitri, ritual pagi saya diisi dengan membersihkan taman. Tak ada hal istimewa yang dirasakan. Yang ada hanyalah percakapan batin yang penuh penyesalan—mempertanyakan mengapa di usia yang hampir menyentuh kepala empat, kemapanan seolah masih enggan menyapa.

Andai kondisi keuangan mengizinkan, niat saya sebenarnya sederhana: pulang untuk berziarah ke makam almarhumah Ibu kandung. Namun, semesta berkata lain. Ketiadaan biaya membuat saya merasa dilabeli sebagai anak yang kurang berbakti karena tak mampu menjenguk peristirahatan terakhir beliau.

Kabar di Sela Potong Rumput

Berbeda dengan saya, keluarga si bungsu yang merupakan penghuni utama di rumah ini sudah punya rencana sendiri. Jujur, saya tidak terlalu memperhatikan apakah mereka akan mudik atau tidak, sampai akhirnya putri tertua mereka menghampiri saya.

Hari itu, saat saya sedang sibuk memotong rumput taman, ia menemani dengan riang. Baru saya sadari bahwa sekolah sudah mulai libur. Dari celoteh polosnya, saya baru tahu kalau mereka sekeluarga akan berangkat mudik keesokan harinya. Mendengar informasi itu, entah kenapa hati saya justru merasa lega. Ada rasa nyaman membayangkan rumah ini akan kosong dan hening dalam waktu dekat.

Selasa sore (17/3), saya mengantar mereka menuju Bandara Ahmad Yani. Ada rasa syukur karena keberangkatan kali ini lewat Semarang, bukan Jogja seperti tahun-tahun sebelumnya yang biasanya jauh lebih melelahkan.

Satu hal yang sangat saya hargai adalah ketika si bungsu memberikan amplop THR sebelum pergi. Nominalnya memang cukup untuk biaya internet satu bulan, namun yang membuat saya menaruh respect bukan pada angkanya, melainkan caranya memberi. Ia masih menggunakan amplop—sebuah gestur santun yang menunjukkan kualitas pribadinya. Benar kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya; sifatnya sangat baik, persis seperti orang tuanya.

Refleksi di Rumah yang Kosong

Kini, saya menikmati kesendirian di rumah yang kosong melompong. Tanpa ada tekanan sosial, tanpa keriuhan, dan tanpa aroma masakan yang biasanya membuat rasa lapar terasa tak tertahankan di tengah keterbatasan.

Meski begitu, ganjalan di hati tetap ada. Penyesalan karena tidak bisa bersimpuh di makam Ibu adalah lubang yang tak tertutup. Saya hanya bisa menitipkan doa dari Semarang, berharap beliau memaafkan dan memahami kondisi anaknya ini. Ingin rasanya menjadi anak berbakti, namun kenyataan justru tampak sebaliknya.

Terhadap Bapak dan adik saya, perasaan saya justru kontras. Ada jarak emosional yang membuat saya tidak merasa bersalah meski tidak mudik menemui mereka. Di momen ini, saya hanya berharap dimaafkan atas segala dosa, baik sebagai anak maupun sebagai kakak yang mungkin kurang baik bagi saudaranya.

Andai Hidup Bisa Diulang

Melihat ke belakang, saya menyadari satu hal: menjadi kaya itu penting karena memberikan kita pilihan. Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang, silaturahmi bisa dijaga tanpa rasa rendah diri. Kita bisa pulang dengan kepala tegak dan membawa oleh-oleh untuk keluarga tanpa harus merasa malu.

Jika hidup ini layaknya drama China yang memiliki sistem layar untuk mengulang waktu, saya ingin kembali dan bertransformasi menjadi sosok yang lebih ambisius. Saya tidak akan lagi menyepelekan setiap kesempatan yang datang. Karena pada akhirnya, ambisi untuk mapan adalah cara untuk menjaga kehormatan dan bakti kepada orang-orang tersayang.

📷 Gambar hanya pemanis saja.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet