Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

⚽ Main 3 Jam: Dinamika di Bawah Mistar Gawang Jelang Libur Panjang

[Artikel 22#, kategori mini soccer] Ada momentum spesial yang menjadi alasan mengapa tim Senin malam dan Kamis malam mengambil durasi bermain lebih lama dari biasanya. Main selama 3 jam sebenarnya tidak menjadi masalah, apalagi beban di pundak para bapak-bapak penggemar sepak bola ini cukup terasa. Anggap saja ini "jatah" mereka sebelum sepenuhnya fokus menghabiskan waktu bersama keluarga.

Menjelang lebaran, kalender tahun ini memang memberikan banyak jatah libur, bahkan sampai seminggu lamanya. Kesempatan berharga ini tentu tidak disia-siakan oleh mereka yang akan menyambut suka cita bersama keluarga. Entah bagaimana dengan yang masih single seperti saya.

Dampaknya ternyata merambah ke hobi yang saya geluti. Perubahan durasi ini merupakan kesepakatan bersama para pengurus, baik dari tim Senin maupun Kamis. Sebagai anggota, saya hanya bisa mengikuti keputusan yang ada.

Durasi Panjang dan Tantangan Fisik

Bermain selama 3 jam berarti ada lebih banyak kesempatan untuk merumput dibandingkan biasanya. Padahal jika melihat waktu pelaksanaannya yang di malam hari, aktivitas berlari mengejar bola itu sangat melelahkan dan sedikit merusak jam tidur—setidaknya itu yang saya rasakan.

Namun, jiwa-jiwa bapak muda dan mereka yang sudah berpengalaman justru menganggap ini sebagai kesenangan murni. Filosofi having fun dalam mini soccer yang terkadang samar, malah berubah menjadi ajang kompetitif antar sesama demi mengantarkan tim meraih kemenangan.

Apalagi, pengurus memberikan tantangan tersendiri kali ini: sebuah kompetisi kecil dengan apresiasi bagi sang juara. Saya beruntung bisa mendapatkannya. Menariknya, apresiasi tersebut berupa beras yang sangat bermanfaat untuk menyambung hidup selama satu bulan ke depan.

Format Mini Games

Karena durasi mencapai 3 jam, tim dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing diisi 6 orang. Posisi kiper tidak dihitung dalam pembagian ini karena akan terus bermain meski tim berganti. Maklum, stok penjaga gawang tidak sebanyak jumlah tim yang terbentuk.

Beruntung pada hari Kamis tersedia 4 kiper, sehingga saya memiliki jeda untuk beristirahat. Berbeda dengan hari Senin di mana stok kiper sangat terbatas, hanya 2 orang. Meski terkadang diakali dengan pemain lain yang bersedia menggantikan, tetap saja ada rasa sungkan yang muncul.

Tiap pertandingan berdurasi 15 menit dengan sistem poin layaknya liga profesional; menang dapat 3 poin. Jika tim kompak dan komposisinya pas, kemenangan terasa lebih mudah diraih. Sebaliknya, jika pemilihan pemain kurang ideal, usaha yang dikeluarkan harus berkali-kali lipat lebih keras.

Dilema memang, sebab penentuan pemain dilakukan melalui undian, bukan asal pilih. Mau tidak mau, setiap pemain harus siap "berjudi" dengan daftar rekan satu tim yang ikut bermain.

Sisi Lain di Bawah Mistar

Sebagai kiper, posisi saya sangat sulit untuk tidak mengeluh. Sudut pandang dari bawah mistar gawang tidak pernah bohong. Bayangkan harus bermain hampir sepanjang waktu, berjibaku dengan bola yang datang, atau menutup ruang saat lawan terus menekan. Tubuh mungil ini terkadang tidak sadar telah mengalami cedera; rasa sakitnya baru benar-benar terasa setelah peluit panjang berbunyi.

Tim boleh berganti, tetapi kiper sudah ibarat pemain abadi. Lima belas menit berlalu, tim ganti, saya tetap di sana menjaga gawang. Sebenarnya ada pilihan untuk istirahat dengan meminta rekan non-kiper menggantikan, dan keputusan itu biasanya saya ambil saat benar-benar merasa lelah atau tidak nyaman.

Saya percaya dengan kemampuan saya, terutama saat tim mampu memberikan dukungan untuk menang. Namun, saya juga harus menurunkan ekspektasi ketika performa tim berada di luar harapan.

Terkadang karena faktor kelelahan atau kebiasaan, saya cenderung ingin maju membantu serangan saat bola di tangan. Sayangnya, insting ini sering kali tidak ditopang oleh kesiapan pemain lain. Ujung-ujungnya, saya hanya bisa mendengar diri sendiri dijadikan kambing hitam atas sebuah kecerobohan. Dalam hati saya bergumam, "Jika kalian bisa mencetak gol, tentu saya tidak perlu maju sejauh ini, bukan?"

Penutup yang Berkesan

Saya sangat menyukai momentum libur panjang seperti ini yang membuat durasi main bertambah menjadi 3 jam. Memang dampaknya adalah pulang lebih malam, apalagi saya hanya mengandalkan sepeda. Namun, rasa senang, nyeri karena cedera, hingga teriakan di lapangan menjadi sesuatu yang akan selalu dirindukan. Mungkin saking berkesannya, suasana pertandingan ini akan terbawa sampai ke mimpi.

Sekarang saatnya mengistirahatkan badan. Saya harus menahan diri dari ajakan main lainnya karena tubuh benar-benar terasa nyeri dan kelelahan. Terima kasih untuk tim Senin dan Kamis yang sudah bekerja sangat keras kali ini. Selamat beristirahat!

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Half Girlfriend, Film India Tentang Pria yang Jatuh Cinta dan Tidak Mau Menyerah