Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

⚽️ Jersey Baru Sanmaru FC: Simbol Semangat di Angka 40

[Artikel 19#, kategori mini soccer] Tahun 2026 menjadi momentum di mana semangat tim hari Kamis terasa begitu meluap. Gairah tersebut akhirnya bermuara pada keputusan untuk merilis jersey baru. Awalnya, sempat ada kebimbangan mengenai seragam untuk posisi kiper—apakah perlu mendaftar khusus atau mengikuti desain tim secara keseluruhan. Biasanya, jersey penjaga gawang memang sering kali menyesuaikan arus besar desain tim.

Memasuki akhir Januari, penantian itu tuntas. Jersey baru ini akhirnya resmi dipamerkan di lapangan. Momentum kebanggaan ini pun diabadikan dengan apik melalui jasa fotografer, memastikan setiap detail dan rasa syukur tim terdokumentasi dengan maksimal.

Saya pribadi akhirnya memutuskan untuk ikut mendaftar setelah beberapa kali hanya menjadi penyimak dalam obrolan panjang di grup perpesanan. Dorongan kuat dari rekan-rekan yang sering mengajak bermain bola menjadi alasan utama saya tidak melewatkan rilisan kali ini.

Refleksi di Balik Nomor Punggung 40

Pilihan nomor punggung 40 bukanlah tanpa alasan. Angka ini memaknai usia saya di tahun 2026. Tidak terasa, saya kini resmi memasuki "klub 40-an", sebuah fase yang sering kali dilabeli sebagai masa paruh baya.

Jersey yang saya terima memiliki desain yang sama persis dengan pemain lainnya; tidak ada spesifikasi khusus untuk kiper. Namun, bagi saya, ini adalah bentuk apresiasi dan dukungan dari rekan-rekan. Sejujurnya, saya sempat merasa pasrah andai tidak mendapatkan jersey ini, mengingat sistem pengadaannya yang berbasis iuran. Sebagai kiper, saya merasa menggunakan pakaian apa pun sebenarnya sudah cukup untuk menjaga gawang.

Demi kepraktisan dan agar proses produksi tidak terhambat, saya memilih untuk mengikuti ukuran mayoritas. Jersey yang saya kenakan berukuran M, meski biasanya saya lebih nyaman dengan ukuran S. Ternyata, ukuran ini cukup pas dan dominan digunakan oleh anggota tim lainnya.

Kualitas dan Detail Material

Meskipun saya sempat lupa detail filosofi dari logo yang tersemat, harus diakui bahwa perpaduan warna biru yang menghiasi jersey ini terlihat sangat estetis saat terkena cahaya lapangan. Secara tekstur, kualitas kainnya berada di level yang berbeda.

Dari sekian banyak perlengkapan sepak bola yang pernah saya miliki, jersey Sanmaru FC ini terasa paling istimewa. Ada kualitas material yang berbeda—mungkin dari jenis dry-fit premium—yang membuatnya sangat nyaman saat bersentuhan dengan kulit.

Lebih dari Sekadar Hobi

Di usia kepala empat ini, saya tidak menyangka bahwa semangat tim yang berawal dari sekadar hobi bisa berkembang ke arah yang lebih terorganisir, bahkan terasa semi-profesional. Atmosfer ini membawa ingatan saya kembali ke masa lalu saat pertama kali belajar membangun sebuah tim sepak bola.

Mini soccer yang identik dengan istilah having fun ternyata memiliki pengaruh yang luar biasa bagi kesehatan mental. Terutama bagi pria yang sudah disibukkan dengan urusan pekerjaan dan keluarga; ruang berkumpul seperti ini memberikan nilai tersendiri.

Terkadang, muncul pemikiran bahwa kesendirian adalah hukum alam bagi pria yang telah melewati angka 30. Namun, kehadiran Sanmaru FC membuktikan sebaliknya. Ada kebersamaan yang hadir di tengah rutinitas, sebuah pengingat bahwa di lapangan hijau, usia hanyalah angka, sementara semangat tetaplah abadi.

Terima kasih untuk kebersamaan ini.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

Money Flower, Drama Korea Tentang Kehebatan Jang Hyuk yang Selalu Dapat Menyelesaikan Masalah