Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🌾 Harga Beras SPHP Mulai Merangkak Naik: Sebuah Pelajaran Tentang Kesetiaan

[Artikel 16#, kategori Produk] Padahal baru beberapa bulan lalu saya memberikan pujian, tapi nyatanya sekarang harga sudah berubah. Inikah yang disebut sebagai hukum ekonomi? Ketika permintaan terus mengalir tanpa henti, nilai sebuah produk pun perlahan naik. Rasanya agak sedih, meski kenaikannya tidak seberapa, namun bagi konsumen yang mengedepankan efisiensi anggaran, setiap rupiah tentu punya cerita.

Pengalaman Membeli Beras di Warung "Modern"

Awal Januari 2026, saya kembali membeli beras SPHP. Pilihan saya jatuh pada sebuah warung sembako langganan. Tempatnya tidak besar, bahkan cenderung mungil, namun ia punya posisi yang unik karena berani berdiri tepat di depan sebuah minimarket modern (Indomaret).

Ada satu hal menarik yang saya apresiasi dari warung ini: adaptasi teknologinya. Sang penjual telah memperbarui metode pembayarannya menggunakan QRIS. Dulu, saat awal belanja, fitur ini sempat ada namun kemudian ditiadakan karena kendala teknis. Kini, QRIS kembali hadir melalui mesin GOPAY QRIS yang mulai jamak ditemukan di warung-warung. Setiap kali proses scan berhasil, mesin tersebut akan mengeluarkan notifikasi suara yang mengonfirmasi bahwa pembayaran sukses. Sebuah sentuhan modernitas di tengah kesederhanaan warung sembako.

Realita Harga: Selisih Dua Ribu Rupiah

Namun, kabar utamanya tetap soal harga. Harga beras SPHP naik.

Terakhir saya membeli pada bulan November lalu, satu sak ukuran 5kg masih dibanderol seharga Rp60.000. Namun, memasuki awal tahun ini, harganya sudah menyentuh Rp62.000. Selisih dua ribu rupiah mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, tapi bagi saya yang berusaha serba hemat, kenaikan ini tetap menjadi catatan tersendiri.

Meskipun harga di warung ini mungkin sedikit lebih murah dibandingkan minimarket, saya pun sebenarnya tidak punya banyak pilihan. Bukan semata-mata karena misi sosial ingin membantu pedagang kecil, tapi rasanya sudah kepalang tanggung karena sudah terlanjur tawar-menawar di sana.

Refleksi di Tahun 2026

Tahun 2026 yang saya prediksi tidak akan berjalan mudah sepertinya memang harus dihadapi dengan mencari berbagai alternatif lain. Dari proses ini, saya belajar sebuah pesan moral sederhana dalam kehidupan: jangan terlalu jatuh cinta pada satu produk.

Bisnis tetaplah bisnis. Bahkan manusia yang dibekali perasaan saja bisa saling mengkhianati, apalagi hanya sebuah barang atau produk. Kesetiaan terkadang harus realistis mengikuti keadaan dompet dan pasar.

Doakan saja agar kita semua terus diberi kemudahan dalam mengarungi perjalanan di tahun ini. Saya sadar, semua orang sedang berjuang melewati masa-masa yang tidak mudah. Semoga kesehatan selalu menyertai kita semua. Amin.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

[Review] One Day, Film Korea Tentang Pertemuan Pria dengan Wanita Koma yang Menjadi Roh