Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🏠 Harapan yang Menepi di Awal Tahun

[Artikel 24#, kategori Keuangan] Awal tahun 2026 ini terasa sedikit berbeda. Saat sedang menempuh perjalanan menuju sebuah acara, ponsel saya bergetar. Karena kebetulan jalanan sedang sepi, saya memutuskan menepi sejenak untuk memeriksa WhatsApp. Ada dua pesan masuk dari nama yang sangat familiar: pemilik rumah—atau lebih tepatnya, keluarga sendiri.

Isi pesannya seragam, menanyakan kontak seseorang yang berkaitan dengan urusan perumahan. Jujur, ada sedikit debar di hati. Apakah ini pertanda baik? Dengan sabar, saya cari kontak yang dimaksud, mengirimkannya kembali, dan melanjutkan perjalanan dengan sejuta spekulasi di kepala.

Ternyata Memang "Nothing"

Saya sempat mengira instruksi tadi adalah pembuka untuk kabar baik lainnya. Namun, setelah ditunggu, ternyata memang tidak ada apa-apa. Termasuk rutinitas kecil yang biasanya ada: jatah bulanan.

Biasanya, si bungsu—anak pemilik rumah—rutin membagikan paket kecil berisi mie instan, kopi, atau teh. Namun, hingga detik ini, suasana terasa sunyi. Setahun terakhir memang situasi keuangan keluarga mereka tampak cukup menantang sejak si bungsu mengambil alih kendali.

Melihat mereka sudah berbelanja bulanan lebih awal dengan porsi yang jauh lebih sedikit dari biasanya, jawabannya sebenarnya sudah terbaca. Sepertinya, tradisi bagi-bagi bulanan itu harus terhenti di sini.

Realitas dan Pilihan untuk Berdiri Sendiri

Bagi saya, ini bukan masalah besar. Saya sudah terbiasa mengandalkan diri sendiri sejak memutuskan jalan hidup beberapa tahun lalu. Diberi tentu saya syukuri, tidak pun bukan jadi soal.

Saya mencoba melihat dari kacamata mereka. Kebutuhan keluarga kecil itu pasti sedang meningkat tajam:

  • Kehadiran anak kedua yang menuntut biaya ekstra.

  • Anak pertama yang sudah masuk SD, di mana biaya pendidikan saat ini tidak bisa dibilang murah.

Wajar jika mereka mulai memberlakukan penghematan ketat. Hidup memang tentang prioritas, dan kali ini, saya harus berlapang dada melihat prioritas itu bergeser.

Menjalani Skenario 2026

Tahun 2026 sepertinya memang akan memberikan tantangan yang lebih berat bagi saya. Namun, tidak ada gunanya terlalu berharap pada keadaan atau uluran tangan orang lain. Fokus saya sekarang adalah menuntaskan apa yang sedang dikerjakan dan membereskan kewajiban, termasuk cicilan pinjaman online yang masih membayangi.

Mari jalani saja semua yang ada di depan mata. Berharap yang terbaik, sembari tetap membumi dengan kenyataan yang ada. Terima kasih sudah bersedia membaca sekelumit cerita sunyi di awal tahun ini. Jika Anda merasa tulisan ini berkesan, dukungan melalui donasi di bawah tentu akan sangat berarti.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

[Review] One Day, Film Korea Tentang Pertemuan Pria dengan Wanita Koma yang Menjadi Roh