Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🧗 Memilih Bertahan: Realitas Blogging dan Pinjaman Pertama di Tahun 2026

[Artikel 23#, kategori Keuangan] Andai saja arus kas masuk berjalan rutin, tentu saya tidak akan kembali menyentuh pinjaman. Namun, realitas pekerjaan yang sedang lesu memaksa saya untuk mengambil langkah ini. Bagi sebagian orang, pinjaman online (pinjol) mungkin dianggap bukan solusi, bahkan dicap sebagai penyakit yang perlahan menggerogoti hidup. Namun, dalam posisi terjepit, saya memilih untuk melangkah sembari berucap bismillah. Mari tetap berjalan.

Dulu, ungkapan "mati satu tumbuh seribu" terasa heroik. Kini, frasa itu justru memiliki konotasi negatif jika dikaitkan dengan siklus pinjol yang seolah tak ada habisnya. Saya sadar sepenuhnya saat mengambil pinjaman baru di awal tahun 2026 ini. Menghidupi aktivitas blogging dan keseharian memang butuh modal yang nyata. Kuota internet, biaya transportasi, hingga asupan makanan dan minuman yang baik demi menjaga mood menulis, semuanya membutuhkan biaya.

Bergantung pada Keberuntungan dan Kerja Keras

Saya bukan seorang pewaris, bukan pula datang dari latar belakang keluarga besar yang mapan. Saya hanyalah sosok yang lugu saat pertama kali terjun ke dunia blogging belasan tahun silam. Dulu, narasi tentang "resign kerja demi menjadi blogger" terdengar sangat keren dan inspiratif. Namun kenyataannya, pengalaman kerja formal tetap menjadi nilai tambah yang krusial.

Saya mengenal rekan-rekan dengan latar belakang jurnalis, mantan orang kantoran, hingga pegawai negeri. Sementara saya, tanpa gelar sarjana, mencoba bertahan di era yang serba instan ini. Sayangnya, saya justru terjebak mewarisi beban dari apa yang dulu dibangun bersama rekan-rekan yang sempat saya anggap sebagai keluarga.

Dunia yang saya tapaki sekarang terasa jauh lebih berat. Blogging tak lagi semanis dulu. Meski pinjaman online terasa menyesakkan, bagi saya saat ini, itu adalah satu-satunya solusi yang bisa diraih. Ada banyak rekan yang menyarankan untuk menyerah dan mencari pekerjaan tetap. Saya menghargai saran tersebut, namun rasanya terlalu pahit jika harus membuang usaha yang sudah dibangun belasan tahun begitu saja.

Tahun 2026 ini, sama seperti tahun sebelumnya, saya hanya bisa mengandalkan ikhtiar dan keberuntungan. Terus berusaha menarik perhatian brand, organisasi, instansi pemerintah, hingga klien perorangan agar roda ekonomi terus berputar.

Jalan Terjal yang Harus Ditempuh

Tentu saja, semua ini tidak mudah. Saya berkomitmen melakukan apa saja demi melunasi cicilan setiap bulannya. Menjual barang pribadi pernah menjadi solusi, meski jujur saja, saat ini hampir tidak ada lagi barang berharga yang tersisa.

Awal tahun ini, pilihan jatuh pada SeaBank setelah sebelumnya sempat menggunakan layanan SPinjam. Saya sering membandingkan keduanya sebelum memutuskan mengambil pinjaman. Setidaknya, keduanya adalah layanan legal yang terdaftar.

Namun, pesan saya satu: jangan pernah menyentuh pinjaman online jika tidak dalam kondisi yang benar-benar mendesak. Apalagi jika Anda tidak memiliki penghasilan tetap, saya sangat menyarankan untuk menjauhinya. Saya sendiri awalnya terjebak karena ulah saudara, bukan karena keinginan pribadi. Namun karena pekerjaan sebagai blogger memiliki penghasilan yang fluktuatif, jebakan itu menjadi siklus yang berkelanjutan.

Silakan ambil sisi positif dari perjalanan saya, namun jangan tiru sisi negatifnya. Mari kembali berjuang di tahun ini dengan segala realitas yang ada.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile