Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pinjaman Baru di Tahun 2025

[Artikel 10#, kategori Keuangan] Babak baru perjalanan saya dengan pinjol baru saja dimulai. Padahal baru dilunasin di awal bulan Februari. Seperti yang saya katakan di artikel sebelumnya, saya ibarat gali lubang tutup lubang. Menghela nafas sejenak.

Saya sangat berhati-hati untuk kali ini. Tidak memakai uang sembarangan meski rasanya juga sulit. Setelah dihitung-hitung, saya punya nafas hanya hitungan kurang dari 5 bulan. Semoga saja ada pemasukan dalam perjalanannya.

Alasan kembali pakai pinjol

Dulu saya bisa beralasan karena musibah. Sekarang rasanya ini adalah solusi dari berbagai kisah-kisah yang dijalanin. Sulit untuk mengakui bahwa aktivitas saya sebagai bloger hanya berdasarkan cinta dan rasa syukur.

Karena ujung-ujungnya, saya tetap butuh uang. Dengan uang, saya bisa makan dan beli paket internet. Fokus saya tahun ini adalah keduanya.

Selain itu, saya sudah tidak dapat subsidi dari rumah yang saya tinggalin seperti yang biasanya berjalan dari tahun 2007 saat menginjakkan kaki di Kota Semarang.

Antara sedih dan mau marah, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Lawong tinggal di rumah sudah gratis dan memakai fasilitasnya juga (seperti listrik, mesin cucui dsb). Anggap saja ini adalah jalan hidup. Terkadang yang terjadi hanya perlu disyukuri saja. 

Tantangan pinjol 

Bulan terakhir tagihan pinjol sebelumnya sebenarnya jadi alasan utama juga karena pemasukan saya yang benar-benar nihil. 

Ketika mengambil pinjaman kembali, saya sudah dihadapkan tagihan-tagihan lain yang ternyata masih ada. Terutama di SPaylater. Itu kesalahan saya yang tidak menyangka pembelian kuota yang dulu masih ada karena menggunakan pembayaran cicilan.

Plus, tagihan bulanan dari iPhone 6s yang juga masih ada. Ponselnya sudah rusak parah dan saya harus menanggung derita pembayarannya. Apesnya.

...

Satu tahun ke depan akan jadi sebuah tantangan besar. Apakah saya bisa menghemat dan berharap ada pemasukan datang dalam beberapa bulan kemudian. Jika tidak, saya terpaksa jual beberapa aset lainnya.

Beberapa orang sepertinya sadar dengan keresahan saya dan mengulurkan tangannya. Sayangnya solusi yang diberikan harus dibayar mahal dengan cara saya melepaskan dotsemarang.

Saya sangat berterima kasih dengan usaha mereka. Ternyata ada yang peduli dengan saya. Namun terpaksa saya menolaknya untuk sekarang. Saya tahu bahwa keputusan saya ini bodoh dan keras kepala.

Tapi, melepaskan dotsemarang setelah upaya saya selama 14 tahun menjaganya, rasanya itu seperti membunuh hasil kerja keras saya selama ini. Ada banyak pengorbanan di sana. Sulit untuk dijelaskan di sini.

Mari berjuang dan saling dukung. Doakan saya bisa terus dilancarkan rejeki dan sehat badannya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini