Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Futsal Perdana di Bulan Februari 2025

[Artikel 163#, kategori futsal] Segalanya baik-baik saja awalnya, namun saat pulang, hujan terus mengguyur sekujur tubuh. Tidak menyangka kembali merasakan pulang kehujanan sehabis futsal, hampir jam 11 malam pula. Adeh.

Selasa malam (4/2), lapangan terasa penuh sesak karena orang-orang yang datang sangat banyak. Ada 4 tim dan beberapa orang yang lain juga. Itu pemandangan yang membahagiakan tentunya.

Tapi sulit juga diprediksi, mengingat ini awal bulan. Semangat orang-orang sangat kental, ditambah juga hari Selasa sebelumnya jadwal main diliburkan karena ada momen tahun baru Imlek. Bisa dibilang karena faktor tersebut yang membuat awal bulan ada banyak pemain yang datang.

Mendadak mood buruk

Setelah beberapa kali bermain sebagai kiper, saya ingin mengambil posisi lain usai pergantian tim. Sudah ngambil rompi dan dikenakan, eh ternyata malah diminta jadi kiper lagi.

Mood saya langsung mendadak buruk. Ingin nolak, tapi saya pemain gratisan yang iurannnya dibayarin teman. Yang nyuruh kiper tadi itu adalah orangnya. Terpaksa nurutin karna tidak ada pilihan.

Hujan menemanin

Memiliki banyak tim kali ini (1 tim 6 orang) memang menyenangkan dan nafas juga masih bisa panjang. Ya, karena bergantian mainnya dan ada jeda buat beristirahat.

Saat menikmati permainan, hujan turun seketika dengan derasnya. Padahal berangkat tadi cerah-cerah saja. Ah, saya harap tidak lama hujannya.

Sayangnya harapan itu tidak terkabul. Hujan terus menemanin. Bahkan, waktu yang saya buang untuk menunggu agar hujan reda tetap tak memberi dispensasi.

Ya, usai futsal pukul 9 malam, saya ngobrol sejenak dengan teman yang ikut bermain usai menghubungi dari DM Twitter. Teman ini tertarik ikut bergabung karena seringnya unggahan saya di X.

Sudah pukul 10 lebih, hujan masih terdengar di atap lapangan. Tapi, kami harus segera pulang. Mau tidak mau, apalagi saya bersepeda tiap datang ke lapangan futsal.

Membayangkan pukul 10 malam lebih, seorang pria berumur 38 tahun sendirian mengengkol sepeda melewati jembatan sambil ditemanin hujan dan angin yang kali ini agak kencang dari biasanya. Dingin, tentu saja. Saya harap tidak membuat badan saya sakit karena turunnya sistem imun di tubuh.

Alhamdulillah, saya sampai di rumah dan saya baik-baik saja.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini