Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

⚽ Cedera Jari Manis yang Tak Terduga

[Artikel 18#, kategori mini soccer] Setiap kali selesai menunaikan ibadah Maghrib, saya selalu menyempatkan diri untuk berdoa sebelum berangkat ke lapangan hijau. Harapannya sederhana: diberi keselamatan, dijauhkan dari cedera, dan kembali ke kamar dalam kondisi utuh tanpa kurang satu apa pun. Namun, kenyataannya berkata lain. Harapan tersebut tidak sepenuhnya terkabul malam itu; jari manis tangan kanan saya justru mengalami cedera saat bermain Senin malam (12/1).

Kronologi yang Sedikit Konyol

Jika dibayangkan, mungkin orang akan mengira cedera ini terjadi karena benturan keras antar pemain atau aksi heroik saya saat terbang menepis bola layaknya kiper profesional. Nyatanya? Jauh dari kesan heroik. Ada cerita menarik, atau lebih tepatnya konyol, di balik cedera ini. Jari manis saya terkilir bukan karena kontak fisik, melainkan karena tersangkut rumput lapangan saat saya berusaha menangkap bola.

Terdengar lucu, memang, tapi itulah realita yang saya hadapi. Meski merasa sedikit konyol karena "dikalahkan" oleh rumput, saya memilih untuk tetap melanjutkan pertandingan. Toh, saya pikir ini hanya bagian kecil dari tubuh. Namun konsekuensinya, saya harus ekstra hati-hati setiap kali bola datang mendekat.

Efek Domino dari Hal Remeh

Seringkali kita meremehkan hal-hal kecil, termasuk jari manis ini. Meski skalanya kecil, rasa sakitnya ternyata "nggak ketulung". Efeknya pun nyata, tidak hanya mengganggu performa saya di bawah mistar gawang, tapi juga mengancam jadwal kegiatan saya di hari-hari berikutnya.

Untuk penanganan awal, saya tidak melakukan pengobatan medis yang serius. Pilihan saya jatuh pada Balsem Geliga, berharap sensasi hangatnya bisa meredakan nyeri dan mempercepat pemulihan secara mandiri. Fokus saya saat ini hanyalah memastikan waktu penyembuhan tidak terganggu.

Mengatur Ritme Bermain

Bagi penyuka olahraga ini, jadwal bermain seminggu dua kali sebenarnya terasa masih kurang. Namun, dengan kondisi jari yang belum pulih total, saya harus lebih bijak. Jika dipaksakan tampil dan kembali terkena gesekan atau benturan pada titik yang sama, proses penyembuhan tentu akan memakan waktu lebih lama lagi.

Cedera kecil ini menjadi pengingat bahwa di lapangan, kewaspadaan tetaplah kunci utama, bahkan terhadap rumput sekalipun. Semoga lekas sembuh untuk jari manis saya!

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

[Review] One Day, Film Korea Tentang Pertemuan Pria dengan Wanita Koma yang Menjadi Roh