Pria Tidak Berdaya
[Artikel 17#, kategori mini soccer] Main bola di hari libur nasional selalu punya cerita tersendiri. Bagi saya, 25 Desember kemarin menjadi momen kedua kalinya menjajal rumput Mini Soccer PIP Semarang (Singosari). Ada pemandangan menarik yang sempat terlintas di pikiran; ini rekan-rekan yang biasa dipanggil "Koko" apa tidak ke gereja ya?
Pertanyaan itu muncul spontan mengingat jadwal main kami dimulai pukul 06.00 hingga 08.00 WIB. Sebagian besar rekan main memang non-muslim dan warga keturunan Tionghoa. Namun, rasa penasaran itu saya simpan sendiri. Toh, urusan ibadah adalah ranah pribadi, yang terpenting bagi saya adalah semangat mencari keringat dan menjaga silaturahmi di lapangan hijau.
Jika mencari lapangan mini soccer yang benar-benar berada di jantung kota, PIP Semarang adalah jawabannya. Lokasinya sangat strategis, selemparan batu dari Simpang Lima. Keuntungan utamanya tentu masalah akses. Saya bisa menjangkau lokasi ini hanya dengan bersepeda santai tanpa harus memikirkan ongkos transportasi daring atau menunggu Trans Semarang.
Memang, selain lapangan Barito, kebanyakan fasilitas mini soccer di Semarang berada di wilayah atas. Kehadiran lapangan di PIP ini tentu menjadi oase bagi penyuka bola yang berdomisili di Semarang bawah seperti saya.
Ada satu hal teknis yang saya sadari saat merumput di sini: ukuran gawangnya. Jika dibandingkan dengan lapangan Barito, mistar gawang di PIP ini terasa lebih pendek dan lebarnya pun lebih kecil.
Bagi saya, tinggi gawang di sini terasa lebih pas. Saya tidak perlu meloncat ekstra tinggi hanya untuk sekadar menyentuh tiangnya. Berbeda dengan di Barito yang sering kali menjadi "lumbung gol" karena ukuran gawangnya yang terlampau besar dibandingkan postur kiper pada umumnya. Di PIP, skor mungkin bisa lebih kompetitif karena ruang tembak yang lebih terbatas.
Bermain bola di pagi hari di Semarang memang butuh fisik ekstra, terutama menghadapi sengatan matahari. Awal laga pukul 06.00 mungkin masih terasa sejuk, namun begitu jam bergeser, panasnya mulai tidak tertahan. Keringat mengucur deras dan konsentrasi perlahan mulai menurun.
Sejauh pengalaman saya berkeliling lapangan bola di Semarang, hanya lapangan di POJ City yang punya "obat" untuk terik matahari pagi. Karena lokasinya yang dekat pantai, hembusan angin laut di sana mampu menetralisir suhu panas, membuat pemain tetap segar meski matahari sudah meninggi. Di PIP, tantangannya murni fisik dan daya tahan terhadap cuaca cerah khas Semarang.
Kehadiran saya di lapangan kali ini tak lepas dari ajakan rekan yang sudah sering main bareng. Kebetulan, jadwal rutin Kamis malam di tempat lain sedang libur, sehingga main pada Kamis pagi menjadi alternatif yang sempurna.
Terima kasih sudah mengajak saya bergabung. Kali ini saya bermain bersama Frei FC, sebuah tim yang memang punya tradisi unik: selalu ingin merumput setiap kali ada tanggal merah di kalender. Sebuah cara yang produktif untuk menikmati hari libur, bukan?
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar