Pria Tidak Berdaya
[Artikel 11#, seni bertahan hidup] Mengawali lembaran awal tahun 2026, saya kembali pada rutinitas lama yang sempat ditinggalkan. Sebuah pilihan yang mungkin bagi sebagian orang terasa menjemukan, namun bagi saya, ini adalah strategi jitu: kembali menjadikan tempe sebagai teman setia di atas piring nasi.
Keputusan ini murni didasari atas perhitungan logis. Dunia yang saya jalani saat ini rasanya sedang tidak ramah dengan isi dompet. Tidak perlu merasa iba, karena ini adalah jalan ninja yang saya pilih dengan sadar. Saya baik-baik saja, bahkan sangat antusias untuk berbagi cerita tentang "seni bertahan hidup" versi saya tahun ini.
Beberapa waktu lalu, saya sempat jatuh cinta pada sayur pare. Lucu memang, dulu saya sangat membenci rasa pahitnya. Kasusnya persis seperti saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota Semarang dan mencicipi Loenpia. Awalnya asing, lama-lama malah jadi kegemaran yang bikin ketagihan.
Namun, belakangan saya sadar bahwa pare telah menjadi kemewahan tersendiri. Terlepas dari manfaat kesehatannya, sayur pare ternyata tidak cukup bersahabat dengan anggaran mingguan.
Dengan uang 5 ribu atau 8 ribu rupiah, pare yang saya beli tidak mampu bertahan hingga satu minggu. Saking nikmatnya, terkadang dalam 5 hari saja stok sudah ludes. Jika diteruskan, "anggaran dapur" saya bisa jebol sebelum waktunya.
Sadar akan keborosan yang mulai mengintai sejak sering jajan pare di warteg dekat rumah, saya memutuskan untuk kembali ke pasar dan membeli tempe mentah. Harganya bervariasi, terkadang saya dapat di angka 6 ribu, 7 ribu, atau paling mahal 8 ribu rupiah jika stok sedang menipis.
Satu papan tempe ini saya siasati dengan cara:
Dipotong kecil-kecil: Agar porsinya merata dan awet.
Disimpan di kulkas: Inilah kunci utamanya. Tanpa bantuan pendingin di rumah, strategi ini mungkin mustahil dilakukan.
Metode Masak Praktis: Saat menanak nasi di rice cooker mini, saya memasukkan potongan tempe di atasnya. Begitu nasi matang, tempe pun siap disantap.
Bahkan, ada kalanya saya memakannya mentah-mentah. Kebiasaan ini sebenarnya sudah saya lakukan sejak sebelum punya rice cooker, terutama saat situasi di dapur rumah sedang tidak memungkinkan untuk digunakan secara bebas. Dengan pola seperti ini, satu atau dua papan tempe bisa mencukupi kebutuhan makan saya hingga dua minggu.
Ada pergeseran filosofi dalam cara saya memandang makanan. Dulu, prioritas saya adalah makan untuk sehat. Sekarang, jujur saja, saya makan untuk mengisi perut agar tetap bisa beraktivitas.
Fokus saya saat ini adalah memastikan sarapan dan makan siang terpenuhi agar pencernaan tetap terjaga, meski menunya itu-itu saja. Saya paham, rasa bosan pasti akan datang. Mungkin saat itu tiba, saya akan kembali melirik pare sebagai selingan.
Hidup memang soal keseimbangan antara keinginan dan realitas kantong. Bagi saya, tidak masalah apa yang ada di piring, selama saya tetap bisa berjalan dengan bahagia dan bertahan di tengah dinamika tahun 2026 ini.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar