Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🥢 Seni Bertahan Hidup: Kembali ke Tempe demi Menjaga Nafas Kantong

[Artikel 11#, seni bertahan hidup] Mengawali lembaran awal tahun 2026, saya kembali pada rutinitas lama yang sempat ditinggalkan. Sebuah pilihan yang mungkin bagi sebagian orang terasa menjemukan, namun bagi saya, ini adalah strategi jitu: kembali menjadikan tempe sebagai teman setia di atas piring nasi.

Keputusan ini murni didasari atas perhitungan logis. Dunia yang saya jalani saat ini rasanya sedang tidak ramah dengan isi dompet. Tidak perlu merasa iba, karena ini adalah jalan ninja yang saya pilih dengan sadar. Saya baik-baik saja, bahkan sangat antusias untuk berbagi cerita tentang "seni bertahan hidup" versi saya tahun ini.

Dilema Pare: Kemewahan yang Cepat Berlalu

Beberapa waktu lalu, saya sempat jatuh cinta pada sayur pare. Lucu memang, dulu saya sangat membenci rasa pahitnya. Kasusnya persis seperti saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota Semarang dan mencicipi Loenpia. Awalnya asing, lama-lama malah jadi kegemaran yang bikin ketagihan.

Namun, belakangan saya sadar bahwa pare telah menjadi kemewahan tersendiri. Terlepas dari manfaat kesehatannya, sayur pare ternyata tidak cukup bersahabat dengan anggaran mingguan.

Dengan uang 5 ribu atau 8 ribu rupiah, pare yang saya beli tidak mampu bertahan hingga satu minggu. Saking nikmatnya, terkadang dalam 5 hari saja stok sudah ludes. Jika diteruskan, "anggaran dapur" saya bisa jebol sebelum waktunya.

Menghitung Efisiensi dari Sebelah Papan Tempe

Sadar akan keborosan yang mulai mengintai sejak sering jajan pare di warteg dekat rumah, saya memutuskan untuk kembali ke pasar dan membeli tempe mentah. Harganya bervariasi, terkadang saya dapat di angka 6 ribu, 7 ribu, atau paling mahal 8 ribu rupiah jika stok sedang menipis.

Satu papan tempe ini saya siasati dengan cara:

  • Dipotong kecil-kecil: Agar porsinya merata dan awet.

  • Disimpan di kulkas: Inilah kunci utamanya. Tanpa bantuan pendingin di rumah, strategi ini mungkin mustahil dilakukan.

  • Metode Masak Praktis: Saat menanak nasi di rice cooker mini, saya memasukkan potongan tempe di atasnya. Begitu nasi matang, tempe pun siap disantap.

Bahkan, ada kalanya saya memakannya mentah-mentah. Kebiasaan ini sebenarnya sudah saya lakukan sejak sebelum punya rice cooker, terutama saat situasi di dapur rumah sedang tidak memungkinkan untuk digunakan secara bebas. Dengan pola seperti ini, satu atau dua papan tempe bisa mencukupi kebutuhan makan saya hingga dua minggu.

Makan untuk Kenyang, Bertahan untuk Bahagia

Ada pergeseran filosofi dalam cara saya memandang makanan. Dulu, prioritas saya adalah makan untuk sehat. Sekarang, jujur saja, saya makan untuk mengisi perut agar tetap bisa beraktivitas.

Fokus saya saat ini adalah memastikan sarapan dan makan siang terpenuhi agar pencernaan tetap terjaga, meski menunya itu-itu saja. Saya paham, rasa bosan pasti akan datang. Mungkin saat itu tiba, saya akan kembali melirik pare sebagai selingan.

Hidup memang soal keseimbangan antara keinginan dan realitas kantong. Bagi saya, tidak masalah apa yang ada di piring, selama saya tetap bisa berjalan dengan bahagia dan bertahan di tengah dinamika tahun 2026 ini.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

🎉 Selamat Tahun Baru 2026