Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🎉 Selamat Tahun Baru 2026

[Artikel 159#, kategori catatanSelamat Tahun Baru 2026. Mengawali lembaran kalender kali ini, saya justru merasa sedang "dipaksa" bertarung dengan realita. Ada pergeseran makna yang cukup kontras dalam keseharian saya. Jika dulu bekerja adalah upaya mencari penghasilan, kini bekerja rasanya lebih tepat disebut sebagai upaya membayar cicilan.

Siklusnya seolah tak putus; lunas satu pinjaman, muncul tagihan lainnya yang memaksa saya kembali mengambil pinjaman baru. Sebuah dinamika hidup yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, namun kini menjadi kawan setia dalam perjalanan.

Tahun Baru yang Sunyi dan Menenangkan

Ada perbedaan mencolok pada transisi tahun ini dibanding tahun lalu. Jika di penghujung 2024 saya masih aktif berlari di lapangan mini soccer, akhir tahun 2025 kemarin saya justru lebih memilih kenyamanan di dalam rumah. Tim sepak bola hari Kamis sudah memutuskan libur jauh-jauh hari, sehingga praktis aktivitas fisik terakhir saya berhenti di Senin malam.

Menariknya, saya justru menikmati kondisi "diam" ini. Suasana rumah terasa lebih sunyi dan senyap. Tidak ada gelak tawa anak-anak yang berlari atau keriuhan pesta keluarga seperti tahun-tahun sebelumnya. Kami semua seolah sepakat untuk meringkuk di kamar masing-masing, hingga akhirnya suara kembang api yang bersahutan di langit Kota Semarang memaksa kami terbangun dan menyadari bahwa tahun telah berganti.

Resolusi Sederhana di Tengah Kepungan "Pinjol"

Mari sejenak mengesampingkan bayang-bayang pinjaman online yang nampaknya masih akan setia menemani saya sepanjang 2026. Saya ingin menetapkan arah baru, sebuah resolusi sederhana namun fungsional untuk mendukung produktivitas kerja: Membeli Smartphone 5G.

Di Kota Semarang, hampir semua operator seluler kini sudah terintegrasi dengan jaringan 5G. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia digital, tentu saya tidak ingin tertinggal tren teknologi ini. Memiliki perangkat yang mumpuni bukan sekadar gaya hidup, tapi kebutuhan agar pekerjaan tetap kompetitif. Apakah resolusi ini akan terwujud? Mari kita amini bersama sembari terus berusaha.

Ambang Usia 40: Menjadi Pria Paruh Baya

Memasuki 2026, usia pun beranjak naik. Bagi saya yang lahir di tahun 1986, tahun ini adalah gerbang menuju usia 40 tahun—sebuah fase yang sering disebut sebagai awal masa paruh baya.

Harapan-harapan klasik seperti kemapanan finansial, hunian pribadi, hingga urusan berkeluarga terasa lebih berat dari biasanya. Namun, saya hanya berharap perjalanan menuju angka 40 ini bisa berjalan lancar dan aman, meski tantangan ekonomi kian terasa mencekik.

Dilema Ruang dan Kemandirian

Ada satu pemikiran yang terus mengusik: keinginan untuk meninggalkan rumah. Bukan karena benci, tapi karena keluarga kecil di rumah ini semakin besar. Pertumbuhan anak-anak membuat saya terkadang merasa canggung dengan ruang yang ada.

Namun, niat untuk mandiri ini masih terbentur realita finansial yang belum memadai. Alih-alih tabungan yang menebal, justru daftar pinjaman online yang masih berderet. Ada keraguan besar, apakah saya mampu mewujudkannya atau akhirnya tetap bertahan di sini. Jika pun jadi melangkah keluar, opsi mencari kamar kos di seputaran Kota Semarang menjadi pilihan paling rasional, karena saya belum ingin beranjak dari kota ini.

Pada akhirnya, saya hanya bisa berserah diri. Bismillah, saya serahkan semuanya kepada Yang Maha Esa, Allah SWT. Semoga tahun 2026 ini membawa jalan keluar, solusi atas segala kesulitan, dan yang paling utama: terhapusnya semua beban pinjaman online dalam hidup saya.

📝 Gambar ilustrasi diambil saat saya pergi ke Jogja bulan Agustus 2025.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile