Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🚨 Akhir Prematur Xabi Alonso di Real Madrid: Mengapa Ia Gagal?

[Artikel 89#, kategori Real Madrid] Kabar mengejutkan menghampiri para pendukung Real Madrid pagi ini, Selasa (13/1). Hanya berselang sehari setelah kekalahan menyakitkan dari Barcelona di Final Piala Super Spanyol, klub resmi mengumumkan perpisahan dengan Xabi Alonso. Sebuah keputusan yang langsung memicu riuh di berbagai platform media sosial.

Sebenarnya tak mengejutkan sama sekali karena sudah ditandai usai kalah lawan manchester City di Liga Champions bulan Desember kemarin.

Saya melihat kekalahan dari rival abadi menjadi titik nadir yang tak terelakkan. Andaikan trofi itu berhasil diraih, mungkin napas Xabi di kursi kepelatihan sedikit lebih panjang. Namun, tekanan di klub sebesar Real Madrid memang tidak mengenal kompromi. Menariknya, manajemen seolah memberikan restu instan saat Xabi mengajukan pengunduran diri—sesuatu yang mungkin tak terjadi jika lawannya bukan Barcelona.

Filosofi yang Terbentur Ego Bintang

Sejujurnya, tidak ada yang salah dengan ambisi Xabi. Ia datang dengan statistik mentereng dan rasa percaya diri tinggi untuk menanamkan filosofi baru. Namun, saya merasa Xabi Alonso justru gagal dalam manajemen pemain, sebuah aspek krusial di ruang ganti sekelas El Real.

Berbeda dengan Carlo Ancelotti yang dikenal sangat memahami cara "memanjakan" mental para pemain bintang, Xabi datang dengan pendekatan yang lebih kaku. Skuad yang terbiasa memiliki kebebasan kreatif di lapangan mendadak merasa dikekang oleh sistem.

Dampaknya bisa kita lihat sendiri selama beberapa bulan terakhir:

  • Konflik Internal: Friksi dengan nama besar seperti Vinícius Júnior dan Rodrygo mulai terendus ke permukaan.

  • Kehilangan Talenta Muda: Keputusan Endrick untuk hengkang demi menit bermain menjadi sinyal kuat adanya komunikasi yang macet.

  • Kasus Mbappé: Xabi terlihat gagal memaksimalkan potensi Kylian Mbappé, yang secara profil seharusnya menjadi senjata mematikan layaknya era Cristiano Ronaldo.

Realita di Balik Linimasa

Membaca berbagai diskusi di linimasa X, saya menangkap adanya polarisasi. Bagi pendukung setia Xabi, ini adalah akhir yang menyedihkan bagi proyek yang masih "seumur jagung". Namun bagi sebagian lainnya, ini adalah jalan keluar yang diperlukan. Performa tim yang stagnan dan skema permainan yang itu-itu saja selama berbulan-bulan menjadi alasan logis di balik perpisahan ini.

Xabi Alonso mungkin pelatih hebat, namun menangani tekanan di klub terbaik dunia membutuhkan lebih dari sekadar statistik; ia membutuhkan kecocokan karakter dengan budaya klub.

Harapan pada Álvaro Arbeloa

Kini, tongkat estafet beralih ke tangan Álvaro Arbeloa. Sebagai pelatih Castilla yang sudah mengenal jeroan Madrid, ekspektasi tentu membubung tinggi. Banyak yang berharap ia mampu melakukan "sihir" yang sama seperti saat Zinedine Zidane naik kasta dahulu.

Bangun di dini hari dan mendapati kabar ini memang sempat membuat saya terhenyak. Namun, dalam sepak bola profesional, setiap keputusan harus dihormati. Terima kasih untuk dedikasinya, Coach Xabi Alonso. Semoga sukses di pelabuhan berikutnya—mungkin mencoba tantangan di Manchester United bisa menjadi pembuktian tersendiri.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

🧗 Memilih Bertahan: Realitas Blogging dan Pinjaman Pertama di Tahun 2026

Mengenal Istilah Jam Kerja Hotel; Split atau Double Shift