Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

🚴‍♂️ Di Balik Layar Belajaraya 2026 Semarang: Tentang Sepeda dan Semangat yang Tak Redup

[Artikel 39#, kategori Dibalik Layar] Saya sempat mengira akan menjadi satu-satunya wajah yang familiar saat melangkah menuju lokasi acara pertama di tahun 2026 ini. Namun, dugaan saya meleset. Di salah satu sudut Wisma Perdamaian pada akhir pekan Januari itu (10/1), saya menjumpai binar antusiasme dari peserta yang hadir. Sebuah pemandangan yang menyadarkan saya bahwa geliat literasi di Semarang masih jauh dari kata usai.

Mengawali tahun, aktivitas luar jaringan (offline) dibuka dengan tajuk kolaborasi antar-komunitas. Kata 'kolaborasi' memang masih terdengar manis dan penuh harapan, meski saya menyadari bahwa agenda ini merupakan bagian dari rangkaian promosi menuju perhelatan yang lebih besar di Jakarta nantinya.

Bagi saya, itu bukan soal. Misi utama saya hadir sederhana saja: memotret semangat komunitas di Semarang pada tahun 2026. Saya ingin membuktikan sendiri, apakah api itu masih berkobar atau mulai meredup, terutama pada komunitas berbasis literasi yang menjadi fokus utama acara bertema edukasi ini.

Masih Konsisten Bersepeda 

Saya datang seorang diri, tanpa undangan resmi protokoler layaknya awak media. Konfirmasi kehadiran pun saya lakukan mandiri melalui kanal Instagram. Sejujurnya, jika bukan karena keinginan melihat langsung denyut nadi komunitas di kota ini, mungkin saya lebih memilih menghabiskan waktu di dalam kamar.

Tahun terus berganti, namun realita yang saya hadapi saat menghadiri acara seringkali masih sama. Belum ada timbal balik yang secara langsung menyejahterakan nasib seorang penulis di ujung tulisan. Namun, status Semarang yang dipilih sebagai salah satu kota tujuan penyelenggara memberikan suntikan semangat tersendiri bagi saya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sepeda tetap menjadi kawan setia saya menuju lokasi. Transportasi murah meriah yang tidak menuntut biaya tambahan, sekaligus bentuk konsistensi saya untuk terus bersepeda di sepanjang tahun 2026 ini.

Realita di Balik Ekspektasi Lokasi 

Membaca pengumuman bahwa acara bertempat di Wisma Perdamaian sempat membuat saya berekspektasi tinggi. Sudah cukup lama saya tidak menginjakkan kaki di gedung bersejarah tersebut. Sayangnya, setibanya di lokasi, bangunan utama yang megah itu bukan menjadi tempat acara.

Kegiatan rupanya dialihkan ke bangunan di sebelahnya yang lebih mungil, yakni kantor BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita). Ada sedikit rasa kecewa, namun saya segera berdamai dengan keadaan. Setelah memarkirkan sepeda di belakang pos pengamanan, saya bergegas menuju meja registrasi sebagai peserta jalur pribadi.

Di sana, suguhan kudapan tradisional dan minuman bersponsor menyambut. Tidak ada jamuan makan besar karena jadwal acara yang dimulai tepat setelah jam makan siang. Sebuah keberuntungan karena saya sudah membekali diri dengan makan siang dari rumah.

Menjemput Kebaikan Lewat Tulisan 

Ini adalah langkah perdana saya kembali ke dunia offline di Kota Semarang pada tahun 2026. Polanya masih sama, tanpa rekan blogger atau jurnalis yang biasa mendampingi. Semua dilakukan atas inisiatif pribadi setelah melihat unggahan Belajaraya 2026 melintas di lini masa media sosial.

Saya percaya, setiap langkah kecil yang didasari niat baik akan mendatangkan kebaikan lainnya. Perjalanan ini bukan sekadar menghadiri undangan, tapi tentang merekam jejak sinergi komunitas yang masih bertahan.

Terima kasih untuk penyelenggara dan seluruh komunitas di Semarang yang tetap bersemangat dalam bersinergi. Catatan lengkap mengenai jalannya acara ini sudah saya rangkum sebelumnya di laman dotsemarang di bawah ini.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini