Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🚴‍♂️ Di Balik Layar Belajaraya 2026 Semarang: Tentang Sepeda dan Semangat yang Tak Redup

[Artikel 39#, kategori Dibalik Layar] Saya sempat mengira akan menjadi satu-satunya wajah yang familiar saat melangkah menuju lokasi acara pertama di tahun 2026 ini. Namun, dugaan saya meleset. Di salah satu sudut Wisma Perdamaian pada akhir pekan Januari itu (10/1), saya menjumpai binar antusiasme dari peserta yang hadir. Sebuah pemandangan yang menyadarkan saya bahwa geliat literasi di Semarang masih jauh dari kata usai.

Mengawali tahun, aktivitas luar jaringan (offline) dibuka dengan tajuk kolaborasi antar-komunitas. Kata 'kolaborasi' memang masih terdengar manis dan penuh harapan, meski saya menyadari bahwa agenda ini merupakan bagian dari rangkaian promosi menuju perhelatan yang lebih besar di Jakarta nantinya.

Bagi saya, itu bukan soal. Misi utama saya hadir sederhana saja: memotret semangat komunitas di Semarang pada tahun 2026. Saya ingin membuktikan sendiri, apakah api itu masih berkobar atau mulai meredup, terutama pada komunitas berbasis literasi yang menjadi fokus utama acara bertema edukasi ini.

Masih Konsisten Bersepeda 

Saya datang seorang diri, tanpa undangan resmi protokoler layaknya awak media. Konfirmasi kehadiran pun saya lakukan mandiri melalui kanal Instagram. Sejujurnya, jika bukan karena keinginan melihat langsung denyut nadi komunitas di kota ini, mungkin saya lebih memilih menghabiskan waktu di dalam kamar.

Tahun terus berganti, namun realita yang saya hadapi saat menghadiri acara seringkali masih sama. Belum ada timbal balik yang secara langsung menyejahterakan nasib seorang penulis di ujung tulisan. Namun, status Semarang yang dipilih sebagai salah satu kota tujuan penyelenggara memberikan suntikan semangat tersendiri bagi saya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sepeda tetap menjadi kawan setia saya menuju lokasi. Transportasi murah meriah yang tidak menuntut biaya tambahan, sekaligus bentuk konsistensi saya untuk terus bersepeda di sepanjang tahun 2026 ini.

Realita di Balik Ekspektasi Lokasi 

Membaca pengumuman bahwa acara bertempat di Wisma Perdamaian sempat membuat saya berekspektasi tinggi. Sudah cukup lama saya tidak menginjakkan kaki di gedung bersejarah tersebut. Sayangnya, setibanya di lokasi, bangunan utama yang megah itu bukan menjadi tempat acara.

Kegiatan rupanya dialihkan ke bangunan di sebelahnya yang lebih mungil, yakni kantor BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita). Ada sedikit rasa kecewa, namun saya segera berdamai dengan keadaan. Setelah memarkirkan sepeda di belakang pos pengamanan, saya bergegas menuju meja registrasi sebagai peserta jalur pribadi.

Di sana, suguhan kudapan tradisional dan minuman bersponsor menyambut. Tidak ada jamuan makan besar karena jadwal acara yang dimulai tepat setelah jam makan siang. Sebuah keberuntungan karena saya sudah membekali diri dengan makan siang dari rumah.

Menjemput Kebaikan Lewat Tulisan 

Ini adalah langkah perdana saya kembali ke dunia offline di Kota Semarang pada tahun 2026. Polanya masih sama, tanpa rekan blogger atau jurnalis yang biasa mendampingi. Semua dilakukan atas inisiatif pribadi setelah melihat unggahan Belajaraya 2026 melintas di lini masa media sosial.

Saya percaya, setiap langkah kecil yang didasari niat baik akan mendatangkan kebaikan lainnya. Perjalanan ini bukan sekadar menghadiri undangan, tapi tentang merekam jejak sinergi komunitas yang masih bertahan.

Terima kasih untuk penyelenggara dan seluruh komunitas di Semarang yang tetap bersemangat dalam bersinergi. Catatan lengkap mengenai jalannya acara ini sudah saya rangkum sebelumnya di laman dotsemarang di bawah ini.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

[Review] One Day, Film Korea Tentang Pertemuan Pria dengan Wanita Koma yang Menjadi Roh