Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ganti Lauk, Ganti Niat

[Artikel 5#, seni bertahan hidup] Setelah hampir setahun setia dengan menu tempe rebus dan timun, menjelang akhir Agustus, saya memutuskan untuk ganti lauk. Pare dan tempe orek dipilih bukan hanya karena bosan, tapi juga karena alasan lebih hemat.

Dasar manusia, walau niatnya hemat, tetap saja bosan kalau yang dimakan itu-itu terus.

Entah apa yang ada di pikiran saya, tapi ide untuk 'lebih hemat lagi' dari level hemat yang sudah ada malah muncul. Akhirnya, ide tersebut terealisasi saat membeli menu di warteg dekat rumah.

Pare, Sayur Pahit yang Bikin Nagih

Dulu, pare ini rasanya tidak enak. Mirip-mirip saat pertama kali makan Lunpia saat awal datang ke Semarang. Namun, karena sudah terbiasa, yang tadinya tidak enak malah jadi nikmat. Tumis pare, yang diolah dengan kuah, memberikan sensasi tersendiri.

Menu ini, ditemani tempe orek, saya beli hanya seharga Rp8.000 saja. Parenya Rp5.000, tempenya Rp3.000. Dengan modal segitu, menu ini bisa saya makan sampai tujuh hari. Walau terkadang godaan itu kuat, sehingga sebelum tujuh hari sudah ludes.

Tidak berbohong, menu tersebut—terutama pare—bisa bertahan lama karena ada kulkas di rumah. Andai tidak ada, ide ini mungkin tidak akan pernah terjadi.

Lebih Murah? Jelas!

Dibandingkan dengan menu lama—tempe utuh Rp6.000-Rp7.000 dan timun Rp8.000—yang totalnya Rp15.000 untuk seminggu, menu baru ini jauh lebih murah. Cukup dengan Rp8.000, saya bisa menikmati pare dan tempe orek selama seminggu penuh.

Kalau soal kesehatan, pare tidak kalah dengan timun. Keduanya sama-sama punya kadar serat tinggi yang berguna untuk melancarkan urusan 'ke belakang'.

Dengan kondisi keuangan yang sedang tidak baik-baik saja, makanan murah memang sangat penting. Namun, menjaga tubuh tetap sehat dan lancar buang air juga tidak kalah penting.

...

Ada-ada saja ide untuk menghemat pengeluaran. Saya yakin, ide ini tidak akan terwujud kalau kelak saya sudah menikah. Mana cukup satu menu yang dibuat untuk satu orang, lalu diterapkan untuk rumah tangga.

Terkadang, saya bersyukur masih single. Tapi kalau ada pilihan untuk berpasangan, saya tetap ingin segera menikah.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini