Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Hujan-hujanan Main Bola: Nostalgia yang Basah Kuyup

[Artikel 11#, kategori mini soccer] Sudah hampir dua tahun saya menyelami dunia mini soccer, tapi baru di Agustus kemarin saya akhirnya merasakan lagi sensasi bermain bola di tengah guyuran hujan. Rasa campur aduk antara bahagia dan sedikit cemas langsung menghampiri. 

Bahagia, karena ini seperti menyelami kenangan masa kecil. Cemas, karena hujannya deras betul dan kami bermain di malam hari.

Momen ini seperti mencoret satu lagi mimpi kecil dari daftar keinginan sederhana saya. Sebelumnya, saya pernah berbagi pengalaman seru bermain dengan pesepakbola perempuan

Kini, hujan-hujanan sambil ngejar bola di lapangan mini soccer bersama Guambo FC jadi kenangan baru yang tak kalah membahagiakan. Apalagi, di usia yang sebentar lagi menginjak kepala empat, hal-hal sederhana seperti ini terasa begitu berharga.

Derasnya Hujan, Derasnya Kenangan  

Dulu, saat masih sekolah, main bola sambil hujan-hujanan adalah hal biasa. Pagi atau sore, kami tetap gaspol meski basah kuyup. Tapi kalau malam? Rasanya mustahil, kecuali di stadion dengan lampu penerangan mumpuni. 

Nah, di Agustus kemarin, saya akhirnya merasakan sendiri bagaimana bermain di tengah hujan malam hari. Dingin menggigit, gerakan terasa lebih berat, pandangan kabur karena air hujan yang mengalir ke mata—semua terasa begitu nyata dan membekas.

Petir Menggelegar, Listrik Padam  

Semangat kami di lapangan tak kalah deras dari hujan itu sendiri. Mungkin semua pemain punya pikiran yang sama: kapan lagi bisa merasakan sensasi seperti ini? Tapi, keseruan itu sempat terhenti. 

Tiba-tiba lampu penerangan di lapangan Barito Semarang padam, bersamaan dengan lampu-lampu di jalanan sekitar. Gelap total! Apakah ini efek hujan yang terlalu ganas? 

Ditambah suara petir yang menggelegar, bikin jantungan. Setiap kilatan petir menyambar, saya refleks menutup telinga sambil komat-kamit berdoa dalam hati.

Genset Penyelamat, Semangat Kembali Membara

Di tengah kegelapan, kami terpaksa berhenti sejenak. Pikiran saya langsung bertanya-tanya, “Apa lapangan ini punya genset? Menyalakan lampu sebesar ini pasti butuh tenaga besar.” 

Dan, tara! Tak lama kemudian, penanggung jawab lapangan seolah menjawab keraguan saya. Genset dinyalakan, dan lampu penerangan kembali menyala terang. Sorak sorai kecil dari teman-teman di lapangan menyambut momen itu.

Hujan masih setia mengguyur, tapi kami tak gentar. Meski badan mulai kaku karena dingin, kami kembali masuk ke lapangan untuk menghabiskan sisa waktu sewa. 

Wajah-wajah lelah memang tak bisa disembunyikan, tapi sorot mata penuh bahagia dari teman-teman Guambo FC jelas terlihat. Ini bukan cuma soal main bola, tapi tentang menikmati momen langka yang sulit terulang.

Nostalgia yang Sulit Dilupain

Bermain bola di tengah hujan seperti membuka album kenangan masa kecil. Sederhana, tapi begitu berarti. Dalam lima tahun terakhir, saya lebih sering bermain futsal di dalam ruangan, yang jelas berbeda dengan mini soccer di lapangan terbuka. 

Hujan-hujanan seperti ini jadi pengalaman yang sulit didapatkan lagi. Makanya, momen di Agustus kemarin terasa begitu spesial. Saya benar-benar bersyukur bisa merasakan kembali sensasi basah kuyup, ngejar bola, dan tertawa bersama teman-teman di tengah guyuran hujan.

Artikel terkait :

Komentar