Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo, Agustus 2025

[Artikel 154#, kategori catatan] Mengawali bulan baru, tubuh ini rasanya remuk redam. Bukan tanpa alasan. Malam sebelumnya, saya pulang dari lapangan futsal baru yang letaknya agak di ujung dunia—baca: jauh banget dari rumah. Tapi, gara-gara lapangan baru ini, saya punya alasan buat keluar malam lewat Simpang Lima di atas jam 9 malam. Suasana malam di kota itu, dengan lampu-lampu dan keramaian yang mulai reda, lumayan bikin hati adem, meski badan udah kayak diseret truk.

Tanggal satu Agustus jatuh di hari Jumat. Meski capeknya minta ampun, alarm tubuh tetap setia membangunkan saya jam 3 dini hari. Ritual pagi pun dimulai: nyiapin sarapan sederhana, ngopi, lalu duduk manis di depan laptop. Keseharian yang biasa, tapi entah kenapa selalu ada cerita baru.

Perang Melawan Nyamuk

Saya bingung, apa yang salah dengan malam tadi? Habis bersih-bersih usai futsal, saya harap bisa tidur nyenyak, eh malah diserang pasukan nyamuk keparat. 

Jendela kamar sudah dicek, rapat. Apa karena kamar saya yang udah mirip gudang—dengan tumpukan buku, baju, dan barang entah apa—nyamuk-nyamuk itu betah beranak pinak? 

Atau mungkin aroma keringat saya pasca futsal terlalu menggoda buat mereka? Entah lah. Yang jelas, tidur saya kacau balau. Pagi harinya, setelah urusan selesai, saya langsung ambruk dan tanpa sadar tidur berjam-jam.

Hape Mati, Hati Was-Was

Belum selesai badan lelet jalannya, eh tiba-tiba hape kesayangan, Zenfone 5, mulai ngambek. Sering mati-mati sendiri, bikin panik. Akhirnya, dengan hati nelangsa, saya bawa ke tempat servis. 

Bayangin kalau hape ini beneran koit—duh, amit-amit. Semua aktivitas, dari bayar tagihan sampe transaksi online, bergantung sama dia. Awal bulan kok udah dihadiahi drama begini, Agustus?

Perjuangan yang Nggak Ada Capeknya

Bertambah usia, saya cuma pengen keberuntungan ikut nambah. Juli sudah lewat dengan segala liku-likunya, sekarang Agustus, saya berdoa biar rezeki dan keberkahan ngalir deras kayak air di Banjir Kanal Barat pas musim hujan. 

Tapi, hidup ini rasanya kayak lari maraton tanpa garis finish, apalagi sejak terjebak pinjol. Teman-teman yang saya curhatin mungkin mikir saya udah di luar nalar: hidup dengan uang pas-pasan, makan seadanya, tapi masih bisa ketawa.

Orang bilang, orang baik selalu dapat ujian. Tapi saya nggak ngaku orang baik kok. Dalam komik yang saya baca, orang baik malah cepet mati. Makanya, saya pengen panjang umur—minimal sampai semua hutang lunas dan mimpi-mimpi di kepala ini tercapai. 

Banyak banget yang masih pengen saya wujudin, mulai dari nulis lebih banyak, sampai mungkin suatu hari bisa nongkrong di kafe hits Semarang tanpa mikirin dompet.

Halo, Agustus, Jangan Bikin Baper

Menyapa awal bulan sudah jadi ritual wajib di blog ini. Sebagai orang yang terus berusaha setiap hari, saya cuma berharap ada momen-momen kecil yang bikin hati ringan. Mungkin besok ada kabar baik, atau setidaknya nggak ada nyamuk yang ganggu tidur lagi. Buat saya sendiri, pesan sederhana: bertahanlah, sekuat tenaga. Agustus, tolong bawa kejutan manis buat saya, ya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini