Pria Tidak Berdaya
[Artikel 13#, seni bertahan hidup] Mungkin saya hanya sedang bosan dengan sayur pare. Namun jika ditelisik lebih dalam, ini sebenarnya adalah bagian dari manajemen keuangan atau budgeting mandiri. Membeli pare di warung makan langganan rupanya hanya mampu bertahan untuk satu pekan. Berbeda ceritanya dengan tempe, yang bisa diandalkan hingga lebih dari seminggu, meski anggaran yang dikeluarkan kurang lebih sama.
Sudah beberapa bulan lamanya saya tidak menyentuh tempe. Seingat saya, terakhir kali menu ini ada di piring adalah pada bulan Januari lalu. Hingga akhirnya di bulan Mei ini, saya kembali memutuskan untuk membelinya di pasar dekat rumah.
Semenjak menerapkan filosofi kesederhanaan dalam keseharian, seni bertahan hidup yang saya jalani memang kerap berganti-ganti pola. Khususnya dalam menentukan menu pendamping nasi.
Sebelum kembali ke tempe, saya sempat mencoba bereksperimen dengan keju dan kecap. Sayangnya, kombinasi tersebut tidak mampu bertahan sampai seminggu untuk menemani aktivitas makan harian. Padahal, frekuensi makan saya terbilang minimalis, hanya dua kali sehari—sebuah kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup saya selama sepuluh tahun terakhir.
Ketika alternatif keju dirasa kurang efektif dari segi efisiensi anggaran, pilihan saya akhirnya jatuh kembali pada tempe. Harganya sangat ramah di kantong, cukup dengan 6 ribu rupiah saja.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, sebatang tempe sebenarnya bisa dikonsumsi hingga dua minggu. Tentu saja dengan catatan penting: di tempat tinggal saya tersedia lemari es atau kulkas untuk menjaga kesegarannya agar tidak cepat membusuk.
Namun, metode penghematan ekstrem ini tentu tidak serta-merta cocok untuk semua orang. Saya tidak menyarankan cara ini untuk langsung ditiru mentah-mentah, meskipun kita mungkin memiliki misi yang sama, yaitu hidup hemat dan mengelola keuangan dengan ketat.
Proses pengolahan yang saya lakukan sebenarnya sangat sederhana. Pertama, tempe dipotong kecil-kecil terlebih dahulu, kemudian disimpan dalam wadah kedap udara sebelum dimasukkan ke dalam kulkas.
Untuk menyajikannya, saya memilih cara yang tidak biasa: tanpa digoreng. Potongan tempe dingin tersebut langsung saya masukkan ke dalam penanak nasi mini (magic jar) berbarengan saat memasak beras. Hasilnya adalah tempe rebus hangat yang matang bersama nasi. Sangat praktis dan menghemat waktu serta penggunaan minyak goreng.
Bahkan dalam beberapa kesempatan, jika sedang enggan repot, tempe tersebut sebenarnya bisa langsung dikonsumsi tanpa perlu dimasak ulang. Sejauh ini, alternatif instan tersebut terbukti aman-aman saja untuk pencernaan saya.
Tantangan terbesar dari pola makan minimalis ini adalah ketika fokus saya hanya tertuju pada satu jenis lauk demi bertahan hidup selama satu hingga dua minggu ke depan. Dulu, saya terbiasa mengombinasikan tempe dengan mentimun segar. Namun untuk kali ini, saya melewatkan belanja sayur tersebut.
Dampaknya langsung terasa. Tubuh mulai kekurangan asupan serat, yang kemudian berujung pada ketidaknyamanan saat harus ke belakang. Masalah ini diperparah dengan tutupnya warung tegal (warteg) langganan yang biasanya menyediakan sayur pare matang.
Kini, saya sedang memikirkan kembali opsinya. Apakah sebaiknya saya mulai rutin membeli mentimun lagi sebagai penyeimbang serat?
Harus diakui, menyantap menu yang sama berupa nasi dan tempe setiap hari selama dua minggu berturut-turut adakalanya mendatangkan rasa jenuh. Rasa bosan itu manusiawi.
Namun di sela-sela rutinitas tersebut, selalu ada ruang untuk kejutan kecil. Terkadang ada keajaiban yang datang, seperti kiriman makanan dari si bungsu yang membuat menu meja makan menjadi lebih bervariasi, meskipun momen manis itu tidak terjadi setiap hari.
Pada akhirnya, hidup adalah tentang bagaimana kita menyikapi apa yang ada. Menjaga tubuh tetap sehat walafiat dan terus bersyukur atas setiap piring makanan yang tersaji adalah kemewahan yang sesungguhnya. Terima kasih, Tuhan.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar