Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

Halo, Mei 2026

[Artikel 163#, kategori catatan] Langit kota di awal bulan ini tampak begitu cerah, seolah memancarkan energi baru yang membawa harapan sekaligus tantangan yang tidak biasa. Pagi ini, kayuhan pedal sepeda membawa saya membelah jalanan menuju lapangan hijau. Ada antusiasme yang membuncah, sebuah awal yang saya harap menjadi pertanda baik untuk melampaui bulan ini dengan pencapaian yang lebih bermakna.

Langkah di bulan Mei ini sebenarnya sudah dimulai sejak pergantian kalender dari April lalu. Menghabiskan waktu bersama tim sepak bola langganan di hari libur menjadi momen yang sangat saya syukuri. Kebetulan, peringatan Hari Buruh pada 1 Mei memberikan ruang untuk sejenak melepas penat dan mempererat kebersamaan di lapangan.

Geliat Hari Jadi Kota Semarang

Mei selalu memiliki tempat istimewa, terutama bagi kota yang saya tinggali saat ini. Suasana kota terasa lebih hidup menyambut puncak perayaan hari jadi pada tanggal 2 Mei. Salah satu agenda yang paling dinanti setiap tahunnya adalah Semarang Night Carnival. Sebuah parade visual yang megah dan selalu berhasil memukau mata. Saya benar-benar berharap bisa kembali hadir dan mengabadikan momen tersebut tahun ini.

Meski demikian, saya harus jujur bahwa belakangan ini semangat sering kali naik turun. Ada kalanya niat yang sudah bulat tiba-tiba luruh karena keraguan di dalam hati. Apakah ini pengaruh usia atau sekadar kejenuhan sesaat? Entahlah. Namun, untuk kali ini, saya bertekad untuk tidak membiarkan keraguan itu menang.

Menjaga Konsistensi Menulis

Persoalan utama yang saya hadapi sebenarnya bukan pada memudarnya gairah menulis, melainkan manajemen fokus. Terkadang, saking asyiknya mengelola blog pendukung, blog utama justru menjadi terbengkalai. Saya teringat pesan pada diri sendiri: jika berani meninggalkan blog sehari saja, maka peluang untuk absen di hari kedua akan terbuka lebar.

Kekhawatiran itu sempat menjadi nyata ketika saya absen memposting konten hingga dua hari di blog dotsemarang. Sebuah evaluasi penting untuk bulan Mei ini. Target saya jelas: konsistensi harus dijaga. Jika memang jadwal terasa sesak, saya harus berani memprioritaskan rumah utama meskipun harus sedikit mengorbankan pengelolaan blog sampingan.

Realita Bertahan Hidup

Di balik layar, ada sisi realitas yang cukup menantang. Saya tidak menyangka bahwa saat ini saya harus bersinggungan dengan layanan pinjaman online (pinjol). Di satu sisi, ini menjadi solusi instan untuk menutup berbagai kebutuhan operasional ketika kiriman dari orang tua sudah tidak mungkin lagi diharapkan di usia produktif ini. Ditambah lagi, arus pendapatan dari aktivitas blogging sedang mengalami masa paceklik.

Namun, saya sangat menyadari risiko dari skema "gali lubang tutup lubang" ini. Tagihan bulanan yang kian membengkak menjadi beban pikiran tersendiri. Satu hal yang saya pegang teguh adalah memastikan dana tersebut digunakan hanya untuk keperluan mendesak, bukan untuk berfoya-foya. Ini adalah bagian dari perjuangan bertahan hidup yang harus saya kelola dengan lebih bijak ke depannya.

Penutup: Menuju Keabadian dalam Tulisan

Perjalanan hidup setiap orang memang unik, penuh dengan warna suka dan duka. Bagi saya, membagikan penggalan kisah ini adalah cara untuk merawat ingatan. Kelak, saat saya membuka kembali catatan ini, saya bisa mengenang setiap perjuangan yang telah dilalui.

Tulisan adalah cara bagi seorang blogger untuk tetap "hidup" meski raga sudah tidak ada lagi di dunia ini. Selama platform ini masih berdiri, jejak digital ini akan menjadi saksi bisu perjalanan saya. Mari berharap bulan Mei ini membawa kelimpahan rezeki, kesehatan yang prima, serta perlindungan dari segala kemalangan.

Bismillah.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🌧️ Kabar Duka di Balik Rintik Hujan April