Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo, Mei 2025

[Artikel 151#, kategori catatan] Hai, Mei. Maafkan saya baru menyapamu hari ini (4/5). Saya baik-baik saja dan sehat selalu. Kesulitan menyapamu lebih karena aktivitas di luar ruangan, yaitu bermain mini soccer. Apalagi dilakukan sehari 2 kali. Benar-benar deh semangatnya.

Awal bulan yang jatuh pada hari Kamis rupanya dimanfaatkan para bapak-bapak muda dengan bermain mini soccer. Maklum, tanggal 1 Mei merupakan tanggal merah yang diperingati Hari Buruh Nasional.

Saya sudah diajak beberapa hari sebelumnya untuk bermain pada tanggal tersebut. Pagi jam 6 dan malamnya jam 6 juga. Energi yang luar biasa di awal bulan.

Jual barang

Akhirnya saya merasakan juga pengalaman pertama menjual barang lewat Facebook Marketplace. Saya sukses menjual modem yang sudah tidak terpakai dengan cara bertransaksi offline di minimarket. Ya, saya mengaturnya usai transaksi di marketplace.

Lalu, saya juga menjual kamera digital yang tempatnya lagi-lagi di minimarket. Saya pikir menggunakan tempat seperti itu lebih nyaman ketimbang harus di tempat tinggal. Ada kekhawatiran kelak di masa depan jika harus bertransaksi di rumah pribadi.

Keuangan

Saya merasa dilema. Uang yang seharusnya untuk bayar bulanan Pinjol yang saya pinjamkan ke orang tua belum dikembalikan. Menagihnya seakan saya adalah anak durhaka, tapi saya membutuhkannya karena beliau sudah janji.

Saya lupa karakter orang tua yang pandai bersilat lidah. Saya tidak percaya ia melakukannya di umur sekarang. Entahlah saya bingung posisi saya sebagai anak. Apakah harus jumawa atau, ah sudahlah.

...

Meski kondisi tubuh saya sehat dan baik-baik saja, namun tidak dengan keuangan. Saya terus berusaha menghemat pengeluaran dan memangkas apa yang bisa dipangkas.

Keluarga yang diharapkan sepertinya semakin jauh dari jangkauan. Tidak berubah sama sekali. Berharap keajaiban datang mungkin satu-satunya harapan.

Termasuk, keluarga kedua. Sepertinya saya hidup hanya untuk membayar hutang kehidupan saja kepada mereka. Saya sudah pasrah dengan yang terjadi, terutama semenjak keuangan distop. 

Semoga saya bisa membayar jasa kebaikan mereka.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger