Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

🌧️ Kabar Duka di Balik Rintik Hujan April

[Artikel 32#, kategori keluarga] Hujan mengguyur Kota Semarang seharian penuh hari ini, Rabu (22/4). Bagi sebagian orang, rintik air yang jatuh mungkin terasa menenangkan, namun bagi saya, ada trauma kecil yang menyelinap setiap kali langit mulai mendung. Benar saja, hujan kali ini kembali membawa pesan yang selama ini paling saya hindari: kabar duka.

Suara dering telepon yang belakangan ini sering membuat saya waswas tiba-tiba memecah keheningan. Di layar ponsel, terpampang nama Bapak. Begitu tombol terima saya tekan, terdengar suara yang sangat familiar sedang bertanya tentang cara melakukan panggilan video. Tak lama, sambungan berganti menjadi video call.

Melihat wajah Bapak dengan peci putihnya, perasaan saya mulai tidak enak. Jarang sekali beliau meminta panggilan video jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Benar saja, dengan nada suara yang berusaha tenang, Bapak mengabarkan bahwa adik bungsunya—paman saya—telah meninggal dunia.

Kalimat Innalillahi meluncur begitu saja. Sambil mendengarkan cerita Bapak, ada satu kalimat yang membuat hati saya mencelos. Beliau berkata bahwa kini beliau sendirian; semua saudara kandungnya telah berpulang. Meski wajah Bapak terlihat tegar, kesedihan itu terasa sangat nyata sampai ke sini.

Kenangan Tentang Paman

Kepergian Paman membawa rasa sedih sekaligus penyesalan yang mendalam. Sebagai keponakan, saya merasa bersalah karena jarak membuat saya tidak bisa hadir secara langsung untuk memberikan penghormatan terakhir atau sekadar menguatkan keluarga yang ditinggalkan.

Paman adalah sosok orang baik yang sangat perhatian kepada saya dan saudara-saudara saya. Beliau memilih merantau ke ibu kota Kalimantan Timur dan membangun keluarga kecil di sana. Sejak saya menetap di Semarang pada tahun 2007, komunikasi kami memang tidak terlalu intens. Namun, memori masa kecil saat beliau dengan ringan tangan memberikan uang jajan selalu tersimpan rapi dalam ingatan saya.

April yang Kelabu

Seolah belum cukup, bulan April ini kembali menguji ketabahan saya. Selain kehilangan Paman, saya menerima kabar kurang menyenangkan dari pemilik rumah yang saya tempati di Semarang. Beliau sudah saya anggap seperti ayah angkat sendiri, seseorang yang jasanya begitu besar dan sulit untuk saya balas.

Melalui cerita dari sahabat dan unggahan di media sosial, saya mengetahui beliau sedang terbaring di rumah sakit karena pecah pembuluh darah. Kondisi ini seketika mengingatkan saya pada almarhumah Ibu kandung saya yang mengalami hal serupa. Rasanya sesak mengetahui orang-orang terdekat sedang berjuang, sementara saya hanya bisa terpaku di sini.

Bulan ini benar-benar terasa berat. Ada rasa tidak berdaya yang menyeruak karena keterbatasan keadaan. Andai saja waktu bisa diputar kembali, saya ingin bekerja lebih keras dan mengumpulkan bekal yang cukup agar dalam situasi seperti ini, jarak dan biaya tidak lagi menjadi penghalang untuk pulang.

Maafkan saya yang belum bisa berbuat banyak. Semoga mereka yang berpulang mendapatkan tempat terbaik, dan mereka yang sedang berjuang diberikan kesembuhan.

📝 Gambar cover dibuat dengan AI.

Artikel terkait :

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini