Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🚲 Pengalaman Pertama Ban Sepeda Bocor Tengah Malam

[Artikel 34#, kategori sepeda] Malam itu, Kamis malam (2/4), saya hanya diberi dua pilihan untuk menyikapi situasi yang sedang terjadi: menertawakan diri sendiri atau marah sejadi-jadinya, meski hanya di dalam hati. Pengalaman belasan tahun bersepeda ternyata belum cukup menghindarkan saya dari momen ikonik ini: pertama kalinya mengalami ban bocor di tengah sunyinya malam.

Membuka awal April, agenda di lapangan rumput sudah dimulai bersama Sanmaru FC. Rasa percaya diri membumbung tinggi, apalagi durasi bermain kali ini ditambah satu jam lebih lama—dari biasanya dua jam menjadi tiga jam. Semesta seolah merestui kebahagiaan saya saat itu, setidaknya sampai peluit panjang ditiupkan.

Kejutan Tak Terduga Saat Pulang 

Segalanya berubah drastis ketika saya hendak beranjak pulang. Saat menghampiri sepeda, ban belakang tampak kempes sempurna. Padahal, pagi harinya sudah saya pompa hingga maksimal. Satu-satunya alasan logis yang tersisa di kepala saya saat itu hanya satu: fix, ban ini bocor.

Seorang rekan yang melihat saya menuntun sepeda berinisiatif meminta bantuan rekan lain yang kebetulan lewat menggunakan motor. Saya pun dibonceng dengan harapan ada solusi cepat. Informasi yang kami terima, ada tempat tambal ban ke arah Stadion Citarum, tepat di dekat sebuah minimarket.

Namun, kelegaan itu luntur seketika. Setelah rekan saya pamit pergi, tukang tambal ban di pinggir jalan tersebut menyatakan tidak melayani ban sepeda. Saya menghela napas panjang. Ternyata mencari bantuan di jam segini tidak semudah membalik telapak tangan.

Senyum "Psikopat" di Atas Jembatan Citarum 

Akhirnya, saya kembali menuntun sepeda menaiki jembatan Citarum menuju arah Jalan Soekarno-Hatta. Di atas jembatan, saya berusaha tetap tegar. Dengan senyum tipis ala psikopat, saya mengeluarkan kamera dan menjepret sepeda yang malang itu. Sekadar untuk kenang-kenangan atau mungkin bukti sejarah bahwa malam ini saya sedang "diuji".

Sudah lewat jam 11 malam. Jika kejadian ini berlangsung pagi atau siang hari, mungkin jantung saya tidak akan berdegup secepat ini. Meski pencahayaan lampu kota Semarang di jalanan ini sangat terang dan kendaraan masih lalu lalang, rasa was-was tetap ada.

Saya teringat ada satu lagi tempat tambal ban di jalan turunan nanti. Api semangat dalam diri kembali menyala, meski hanya kecil. Namun, kekecewaan kedua datang menghampiri. Di tempat tersebut, saya kembali ditolak. Apa yang salah? Padahal peralatan mereka lengkap. Apakah karena jenis ban sepedanya, atau memang tenaga sang tukang yang sudah habis?

Perjalanan 4 Kilometer yang Terasa Abadi 

Saya menyerah untuk mencari bantuan lagi. Saya memutuskan untuk menuntun sepeda sampai ke rumah. Jarak hampir 4 kilometer yang biasanya terasa singkat jika dikayuh, kini terasa jauh lebih panjang. Di tengah sunyinya dini hari, saya hanya ditemani suara langkah kaki dan gesekan karet ban yang kempes di atas aspal.

Momen ini memaksa saya melambatkan tempo kehidupan. Sambil menuntun, saya melihat sisi lain kota yang sering terabaikan saat kita melaju kencang. Meskipun kaki terasa pegal luar biasa dan keringat sisa pertandingan kembali bercucuran, ada ruang untuk sedikit merenung tentang arti kesabaran.

Pelajaran dari Aspal Malam 

Saya tiba di rumah tepat saat layar ponsel menunjukkan pukul 00.01 dini hari. Selain rasa lelah yang luar biasa, ada sedikit rasa nyeri di bagian selangkangan. Mengingat saat pertandingan tadi sempat turun hujan dan membuat celana basah hingga ke bagian dalam, rasa perihnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.

Pulang dengan kondisi menderita memang jauh dari rencana awal yang membahagiakan. Namun, perjalanan tengah malam itu memberi saya cerita baru. Bahwa terkadang, hobi yang kita cintai memang menuntut pengorbanan lebih—bahkan setelah laga usai.

Selalu menyenangkan mendapatkan pengalaman pertama, meski tidak harus se-dramatis ini. Mari menertawakan diri sendiri sebelum tidur.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Pulang Pergi ke Hotel The Wujil Resort & Conventions

Berkenalan dengan Istilah Cinephile