Pria Tidak Berdaya
[Artikel 34#, kategori sepeda] Malam itu, Kamis malam (2/4), saya hanya diberi dua pilihan untuk menyikapi situasi yang sedang terjadi: menertawakan diri sendiri atau marah sejadi-jadinya, meski hanya di dalam hati. Pengalaman belasan tahun bersepeda ternyata belum cukup menghindarkan saya dari momen ikonik ini: pertama kalinya mengalami ban bocor di tengah sunyinya malam.
Membuka awal April, agenda di lapangan rumput sudah dimulai bersama Sanmaru FC. Rasa percaya diri membumbung tinggi, apalagi durasi bermain kali ini ditambah satu jam lebih lama—dari biasanya dua jam menjadi tiga jam. Semesta seolah merestui kebahagiaan saya saat itu, setidaknya sampai peluit panjang ditiupkan.
Kejutan Tak Terduga Saat Pulang
Segalanya berubah drastis ketika saya hendak beranjak pulang. Saat menghampiri sepeda, ban belakang tampak kempes sempurna. Padahal, pagi harinya sudah saya pompa hingga maksimal. Satu-satunya alasan logis yang tersisa di kepala saya saat itu hanya satu: fix, ban ini bocor.
Seorang rekan yang melihat saya menuntun sepeda berinisiatif meminta bantuan rekan lain yang kebetulan lewat menggunakan motor. Saya pun dibonceng dengan harapan ada solusi cepat. Informasi yang kami terima, ada tempat tambal ban ke arah Stadion Citarum, tepat di dekat sebuah minimarket.
Namun, kelegaan itu luntur seketika. Setelah rekan saya pamit pergi, tukang tambal ban di pinggir jalan tersebut menyatakan tidak melayani ban sepeda. Saya menghela napas panjang. Ternyata mencari bantuan di jam segini tidak semudah membalik telapak tangan.
Senyum "Psikopat" di Atas Jembatan Citarum
Akhirnya, saya kembali menuntun sepeda menaiki jembatan Citarum menuju arah Jalan Soekarno-Hatta. Di atas jembatan, saya berusaha tetap tegar. Dengan senyum tipis ala psikopat, saya mengeluarkan kamera dan menjepret sepeda yang malang itu. Sekadar untuk kenang-kenangan atau mungkin bukti sejarah bahwa malam ini saya sedang "diuji".
Sudah lewat jam 11 malam. Jika kejadian ini berlangsung pagi atau siang hari, mungkin jantung saya tidak akan berdegup secepat ini. Meski pencahayaan lampu kota Semarang di jalanan ini sangat terang dan kendaraan masih lalu lalang, rasa was-was tetap ada.
Saya teringat ada satu lagi tempat tambal ban di jalan turunan nanti. Api semangat dalam diri kembali menyala, meski hanya kecil. Namun, kekecewaan kedua datang menghampiri. Di tempat tersebut, saya kembali ditolak. Apa yang salah? Padahal peralatan mereka lengkap. Apakah karena jenis ban sepedanya, atau memang tenaga sang tukang yang sudah habis?
Perjalanan 4 Kilometer yang Terasa Abadi
Saya menyerah untuk mencari bantuan lagi. Saya memutuskan untuk menuntun sepeda sampai ke rumah. Jarak hampir 4 kilometer yang biasanya terasa singkat jika dikayuh, kini terasa jauh lebih panjang. Di tengah sunyinya dini hari, saya hanya ditemani suara langkah kaki dan gesekan karet ban yang kempes di atas aspal.
Momen ini memaksa saya melambatkan tempo kehidupan. Sambil menuntun, saya melihat sisi lain kota yang sering terabaikan saat kita melaju kencang. Meskipun kaki terasa pegal luar biasa dan keringat sisa pertandingan kembali bercucuran, ada ruang untuk sedikit merenung tentang arti kesabaran.
Pelajaran dari Aspal Malam
Saya tiba di rumah tepat saat layar ponsel menunjukkan pukul 00.01 dini hari. Selain rasa lelah yang luar biasa, ada sedikit rasa nyeri di bagian selangkangan. Mengingat saat pertandingan tadi sempat turun hujan dan membuat celana basah hingga ke bagian dalam, rasa perihnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
Pulang dengan kondisi menderita memang jauh dari rencana awal yang membahagiakan. Namun, perjalanan tengah malam itu memberi saya cerita baru. Bahwa terkadang, hobi yang kita cintai memang menuntut pengorbanan lebih—bahkan setelah laga usai.
Selalu menyenangkan mendapatkan pengalaman pertama, meski tidak harus se-dramatis ini. Mari menertawakan diri sendiri sebelum tidur.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar