Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tahun 2025 Masih Bersepeda ?

[Artikel 31#, kategori sepeda] Ya, saya masih bersepeda. Apalagi sepeda adalah satu-satunya alat transportasi yang saya miliki. Saya sangat bersyukur masih bisa memakainya meski keadaannya makin hari makin mengenaskan.

Halo, pria yang akan memasuki usia ke-40 tahun. Masih setia dengan sepedanya tiap pergi ke mana-mana? Kamu hebat di saat dunia sedang bertransformasi dengan kehadiran kendaraan listrik. 

Padahal dari sisi harga, kendaraan listrik terhitung murah. Apakah tidak ingin juga membelinya? Lebih efisien, bisa dibuat olahraga juga dan tentu, tidak capek jika kayuhnya dibuat dengan mode laju cepat (listrik).

Miskin

Sepertinya saya berbicara dengan orang lain. Ah, tidak. Itu saya sendiri yang seakan memberi nasihat. Ya, memang kendaraan listrik semacam sepeda bisa membuat saya lebih nyaman dan cepat.

Hanya saja, keadaan yang memaksa saya belum bisa membelinya. Jika ada uangnya pun, mungkin saya akan menyimpannya untuk membantu perkembangan blog dotsemarang dan membayar hutang-hutang.

Menjadi miskin di tempat tinggal mewah memang terasa aneh. Mau gimana lagi, saya hanya mampu memanfaatkan fasilitas yang masih bisa digunakan. Namun entah sampai kapan bisa memakainya. Kelak, saya pasti akan keluar dari sana juga.

Saya tidak menyangka di umur menjelang 40-an gini, diri saya masih terlihat miskin. Jangankan punya penghasilan tetap, berpikir makan enak saja masih mikir. 

Ditambah keputusan beberapa bulan lalu dari pemilik rumah yang menyetop bulanan yang biasa diberikan sekedar buat makan sehari-hari. Benar-benar rumit nasib yang saya pegang sekarang.

Bersepeda adalah salah satu solusi yang saya miliki demi penghematan bisa pergi ke mana-mana. Mau itu ke mal, liputan hingga berkeliling di sekitar Kota Semarang.

Doakan saja saya agar badannya terus sehat dan panjang umur. Dan juga, mari berharap agar sepeda saya tidak sepenuhnya rusak. Jika sudah sampai rusak, saya bingung gimana saya menuliskan kisah saya lagi kelak.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini