Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kabar Duka

Tidak menyangka mengawali awal tahun 2025 sudah mendengar kabar duka dari seseorang yang saya anggap punya talenta di masa mudanya saat kami sama-sama duduk di bangku kuliah. Satu persatu pergi, saya bingung sendiri bagaimana saya mengisahkannya kali ini.

Ia adalah perempuan yang saya anggap punya potensi sewaktu dulu pertama kali bertemu. Dengan tidak ragu-ragu, saya merekrutnya ke dotsemarang yang saat itu masih berkomunitas. Mungkin kami adalah senior junior saat itu karena ia baru memasuki bangku kuliah.

Saya senang melihat banyak bakat-bakat mentah yang bisa dikembangkan dengan masa depan cerah. Saya ibarat pelatih dan juga penggemar. 

Ya, dia punya tekad karena datang dari luar pulau Jawa. Semangatnya tidak pantang menyerah dan yang saya suka ia mau berkembang. Sikapnya juga bertanggung jawab dan tentunya baik, sehingga saat ada sesama anggota ada yang menyukainya saya anggap itu peluangnya.

Waktu terus berlalu dan seiring waktu kami sudah tidak berkomunikasi. Sama seperti yang lainnya, periode yang tidak saya sukai karena kami tak pernah berpesta bersama untuk sekedar berkata sampai jumpa dan terima kasih.

Setiap orang memang memiliki periode sulitnya dan jalannya masing-masing. Tapi, toh kita pernah berucap bahwa kita semua adalah keluarga. Kata yang legit tapi juga sakit.

Ketika saya terus berusaha menjaga nama dotsemarang agar terus ada, tanpa sadar waktu sudah tiba di awal tahun 2025. Sebuah kabar duka datang dari rekan yang pernah tinggal bersama di Semarang.

Ia sudah meninggalkan kita semua. Lebih tenang sekarang ketimbang beberapa waktu belakangan terlihat begitu tegar dari tiap unggahannya di media sosial.

Kami memang masih terhubung di media sosial, termasuk yang lain. Namun saya malas berkomunikasi dengan yang lain karena kebahagiaan yang mereka bagikan membuat saya sadar masih tenggelam di Kota Semarang.

Kini, perasaan itu kembali. Mengingatkan kenangan masa lalu, bagaimana ia pernah menjadi bagian penting perjalanan dotsemarang. Saya mengingatnya sebagai pribadi yang luar biasa dan semoga amalnya diterima di sisi-Nya. Amin ya robbalalamin.

Terima kasih sudah menjadi bagian dotsemarang.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini