Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🚲 Apes di Jalan Kartini: Saat Niat Menelusuri Sejarah Berujung Ganti Velg Sepeda

[Artikel 33#, kategori sepeda] Kejadiannya begitu cepat. Di tengah keriuhan lalu lalang kendaraan siang itu, tiba-tiba terdengar suara desis bocor yang sangat akrab di telinga. Seketika pandangan saya tertuju pada ban depan. Mampus! Rasanya campur aduk, ingin rasanya berteriak sekencang mungkin di tengah jalan. Ada-ada saja godaan bagi pejuang konten seperti saya, apalagi adegan ini ditemani rintik gerimis yang mulai turun.

Senin siang (9/2/2026), usai mengikuti agenda "Menelusuri Sejarah Jejak Pers di Pecinan Semarang", saya segera bergegas pulang. Saya sempat menolak ajakan rekan-rekan lain yang memilih bertahan di kediaman sang inisiator acara. Rupanya, saya memilih "jalan takdir" yang salah. Andai saja saya tetap di sana bersama peserta lain, mungkin ceritanya tidak akan se-apes ini.

Usaha yang Terasa Sia-Sia

Gara-gara ban bocor ini, rasanya seluruh effort yang saya keluarkan untuk acara hari ini menguap begitu saja. Bayangkan, saya datang ke lokasi dengan modal tenaga (mengayuh sepeda), lalu di setiap titik tur pun saya harus terus mengayuh meski jaraknya tidak terlalu jauh. Karena ini adalah inisiasi komunitas lokal, sudah dipastikan sejak awal tidak ada amplop atau fasilitas mewah. Ya, modal saya murni rasa ingin tahu dan nilai sejarah yang akan menjadi bahan tulisan di blog nanti.

Saat perjalanan pulang, saya tidak merasakan firasat apa pun. Namun, tepat saat menikung di Jalan Kartini, ban depan kempes seketika. Kena paku atau batu? Pikiran saya langsung kalut. Menariknya, yang saya khawatirkan pertama kali bukanlah lelahnya menuntun sepeda atau mencari tukang tambal ban terdekat.

Masalah utama saya adalah finansial. Di dompet sudah pasti nihil uang tunai. Di aplikasi keuangan pun saldonya hanya tersisa sedikit, bahkan mungkin kurang untuk membayar jasa tambal. Apakah ini artinya saya harus mengandalkan limit pinjaman aplikasi lagi?

Drama di Bawah Jembatan Kartini

Sambil menuntun sepeda mencari bantuan, saya mencoba tetap berpikir positif. Dengan pakaian yang masih terbungkus jas hujan, akhirnya saya menemukan lapak tambal ban tepat di bawah akses turunan Jembatan Kartini arah Jolotundo.

Setelah menunggu giliran, sepeda mulai diperiksa. Pertanyaan pertama saya kepada bapak tukang tambal adalah soal metode pembayaran: "Bisa non-tunai, Pak?". Jawabannya sudah bisa ditebak: tidak bisa. Saya langsung dilema.

Kejutan berikutnya muncul saat ban dibongkar. Ternyata penyebabnya bukan paku atau batu, melainkan velg sepeda saya sendiri. Bagian sisi velg mencuat keluar dan merobek ban dalam. Si Bapak langsung memvonis, "Ini velg-nya harus ganti baru."

Mendadak ada air jatuh di dekat mata saya. Bukan air mata, tapi air hujan yang sejak tadi membasahi tubuh. Saya benar-benar shock. Di mana harus mencari velg baru dalam kondisi seperti ini? Beruntung, si bapak merekomendasikan sebuah toko sepeda terdekat yang bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Pelajaran Berharga tentang Biaya Tak Terduga

Di bengkel sepeda, pilihan jatuh pada velg seharga di atas 100 ribu rupiah. Wajah saya sedikit lega karena mereka menerima pembayaran via QRIS. Saya bahkan sekalian meminta tarik tunai untuk membayar jasa si bapak tambal ban nanti. Syukurlah mereka mau membantu tanpa menambah beban biaya admin.

Namun, drama belum usai. Saat saya membawa velg baru tersebut, si bapak tambal ban justru menyarankan mencari yang lebih bagus meski bekas agar lebih awet. Alhasil, saya harus kembali ke bengkel sambil diboncen motor si bapak. Bukannya mendapat harga lebih murah, harga velg pilihan bapak tersebut justru membuat tagihan aplikasi saya semakin membengkak. Karena ingin sepeda segera beres, saya pasrah saja melakukan scan QRIS lagi dengan berat hati.

Setelah menunggu lebih dari dua jam, sepeda akhirnya kembali normal. Si bapak tukang tambal ternyata sangat baik. Beliau tidak hanya memasang velg, tapi juga memperbaiki rem depan dan belakang tanpa meminta biaya tambahan yang besar. Sepertinya beliau kasihan melihat kondisi saya yang kuyup dan kebingungan.

Catatan di Awal Tahun 2026

Hujan masih setia menemani perjalanan pulang. Dalam hati, saya merenung. Niat ikut acara untuk memperkaya pengetahuan dan konten blog malah berakhir menguras kantong hingga 150 ribu rupiah. Bagi sebagian orang, nominal itu mungkin kecil, tapi bagi saya, itu beban yang cukup terasa.

Ini adalah kejadian kedua yang menimpa sepeda saya di awal tahun 2026. Bulan lalu bocor karena kaca, sekarang karena velg yang sobek. Satu pelajaran penting yang saya petik: memiliki barang berarti harus siap dengan biaya perawatan atau biaya tak terduga. Sesuatu yang mungkin dulu tidak pernah diajarkan secara detail oleh orang tua kita.

Apes memang, tapi setidaknya sepeda saya sudah siap diajak "ngonten" lagi menyusuri sudut-sudut Kota Semarang lainnya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Half Girlfriend, Film India Tentang Pria yang Jatuh Cinta dan Tidak Mau Menyerah