Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🐯 Vonis Mati Zenfone 5 dan Filosofi Shio Macan di Tahun Kuda Api 2026

[Artikel 4#, kategori Smartphone] Saya tidak pernah menyangka bahwa tahun 2026 akan menjadi babak terakhir bagi ASUS Zenfone 5 yang telah menemani perjalanan saya sejak 2019. Ponsel ini bukan sekadar perangkat keras; ia adalah saksi bisu perjuangan saya, hasil dari kemenangan kampanye promosi ASUS Indonesia bertahun-tahun silam. Namun, Selasa pagi (24/2)  mengubah segalanya begitu cepat.

Saat sedang asyik menonton video, ponsel mendadak mati total. Awalnya, saya mengira ini hanya masalah baterai habis yang sepele. Namun, saat kabel pengisi daya dicolokkan, layar hanya menampilkan logo baterai yang berkedip hidup-mati secara berulang. Berbagai upaya mandiri hingga penelusuran solusi di internet saya lakukan, namun hasilnya nihil. Tidak ada jawaban yang mampu menghidupkannya kembali.

Kekhawatiran saya memuncak. Membawa ponsel ke pusat servis berarti akan ada pengeluaran tak terduga. Kondisi ini terasa kian berat mengingat situasi keuangan yang sedang tidak menentu. Apalagi, baru beberapa minggu lalu saya harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mengganti velg sepeda yang rusak mendadak selepas sebuah acara. Rasanya benar-benar lemas, namun ternyata itu barulah awal dari kabar yang lebih menyesakkan.

Diagnosis IC EMMC: Sebuah Vonis Mati

Sesaat setelah tiba di tempat servis, diagnosis awal diarahkan pada penggantian baterai dengan estimasi biaya antara 250 ribu hingga 350 ribu rupiah. Saya sempat merasa sedikit lega dan memutuskan untuk lanjut, dengan harapan saldo di aplikasi pembayaran digital di dalam ponsel tersebut bisa segera saya akses untuk melunasi biaya servisnya.

Namun, harapan itu pupus setelah satu jam menunggu. Karyawan servis kembali dengan kabar yang membuat dada sesak. Zenfone 5 rilisan 2018 milik saya divonis mengalami kerusakan pada IC EMMC. Biaya perbaikannya melonjak hingga 500 ribu rupiah, jauh lebih mahal dari harga baterai, dengan risiko tambahan yang sangat menyakitkan: semua data akan hilang permanen.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, saya hanya bisa bertanya berulang kali apakah ada solusi lain. Sayangnya, IC EMMC adalah "jantung" penyimpanan data. Jika bagian ini rusak, peluang pemulihan data sangat tipis, kecuali yang tersimpan di kartu SD eksternal. Akhirnya, dengan berat hati dan kondisi dompet yang sedang tidak bersahabat, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan servis.

Dampak Finansial dan Dilema Digital

Keputusan untuk mempensiunkan Zenfone 5 diambil bukan tanpa pertimbangan. Mengeluarkan setengah juta rupiah untuk ponsel berusia lebih dari lima tahun yang rentan kambuh lagi terasa tidak logis. Meski saya berusaha ikhlas dengan hilangnya data, masalah finansial memberikan hantaman yang berbeda.

Seluruh ekosistem keuangan saya, mulai dari SeaBank, Shopee, hingga Dana, terperangkap di dalam ponsel yang mati tersebut. Padahal, ada kewajiban cicilan pinjaman online yang harus diselesaikan awal Maret mendatang. Di titik ini, saya menyadari bahwa ganti ponsel tidak sesederhana mengganti mouse komputer; ada sinkronisasi data dan akses finansial yang krusial di dalamnya.

Refleksi Shio Macan di Tahun Kuda Api

Melihat rentetan peristiwa ini—mulai dari sepeda yang dua kali masuk bengkel hingga ponsel yang mati total—pikiran saya menerawang pada peruntungan Shio. Kebetulan, tahun 2026 adalah Tahun Kuda Api. Sebagai pemilik Shio Macan, saya mencoba mencari makna di balik kesulitan ini.

Secara astrologi Tionghoa, Macan dan Kuda berada dalam kelompok San He (Tiga Harmoni). Secara energi, seharusnya tahun ini bersifat sinkron. Namun, Tahun Kuda Api menuntut kecepatan dan pelepasan beban lama. Rusaknya Zenfone 5 ini mungkin adalah simbol "Pelepasan" yang nyata.

Dalam kacamata yang lebih positif, mungkin ini bukan sekadar kesialan, melainkan bentuk pengorbanan (neutralizing) untuk menyerap energi negatif. Ponsel yang "pergi" ini seolah memberi ruang bagi saya untuk memulai sesuatu yang baru dengan perangkat yang lebih mumpuni demi menangkap peluang karier dan bisnis yang lebih besar di tahun 2026.

Penutup: Terima Kasih, Kawan Lama

Mempensiunkan Zenfone 5 ternyata membawa dilema yang sangat mendalam. Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa teknologi memiliki batas usia, namun perjuangan hidup tidak boleh terhenti di sana. Ada pelajaran tentang kesabaran dan manajemen risiko yang saya petik dini hari ini.

Untuk kawan lama yang sudah bertugas sejak 2019, terima kasih atas segala dedikasinya. Untuk tagihan Maret yang sudah menunggu, saya akan menghadapinya dengan kepala dingin, meski hati sempat memanas. Kini, fokus saya adalah mencari pinjaman perangkat sementara agar roda aktivitas finansial bisa kembali berputar.

Terima kasih, Zenfone 5. Saatnya saya melangkah maju.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile