Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

⚽ Pulang Bawa Beras: Apresiasi Tak Terduga di Lapangan Hijau

[Artikel 40#, kategori Dibalik Layar] Momen selesai merumput biasanya hanya menyisakan peluh dan rasa lelah yang melegakan. Namun, ada yang berbeda saat saya hendak melangkah keluar lapangan kali ini, Senin malam (16/3). Tanpa disangka, panitia menghampiri dan menyerahkan satu karung beras kemasan 5 kg.

Ternyata, apresiasi hari ini tidak hanya tertuju pada para pencetak gol yang atraktif. Posisi penjaga gawang atau kiper pun turut mendapat perhatian. Sebuah gestur yang sangat saya hargai, apalagi di tengah situasi yang menuntut kita untuk lebih cermat dalam mengatur pengeluaran bulanan.

Perasaan saya tentu sangat bahagia. Ini bukan sekadar soal nilai materinya, melainkan tentang momen langka di mana hobi yang ditekuni bisa menghasilkan prestasi yang sangat praktis bagi dapur di rumah. Rasanya seperti mendapat anugerah yang patut disyukuri; kapan lagi pulang bermain bola bisa menenteng beras berkualitas?

Bicara soal kualitas, beras pemberian ini kabarnya bukan sembarang produk. Katanya, ini jenis beras pulen yang jika dimasak akan menghasilkan tekstur lembut dan lunak. Sangat kontras jika dibandingkan dengan beras yang biasa saya konsumsi sehari-hari, beras SPHP. Meski bagi saya yang terpenting adalah manfaatnya, kehadiran beras istimewa ini jelas menjadi kemewahan tersendiri.

Terima kasih saya ucapkan kepada panitia Guambo FC (Senin). Apresiasi ini sangat berarti bagi para pemain, terutama bagi saya pribadi. Selain beras, beberapa paket camilan dan minuman energi juga turut melengkapi "buah tangan" dari lapangan hijau hari ini.

Momen ini ingin saya abadikan sebagai pengingat bahwa semesta selalu punya cara untuk memberi restu. Di saat perjalanan hidup mungkin terasa sedang tidak baik-baik saja, hadirnya harapan kecil seperti ini adalah kebahagiaan yang sulit dijabarkan dengan kata-kata.

Sehat selalu untuk kita semua, dan biarlah hobi terus membawa berkah.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile