Pria Tidak Berdaya
[Artikel 12#, seni bertahan hidup] Pulang selepas meliput kemeriahan Pawai Ogoh-ogoh pada Minggu malam (26/4), saya memutuskan menepi sejenak di sebuah minimarket di kawasan Jolotundo. Ada sebuah misi sederhana yang ingin saya tunaikan malam itu: menghidupkan kembali strategi lama untuk bertahan hidup lewat kombinasi keju dan kecap.
Total belanjaan kali ini menyentuh angka 19 ribu rupiah. Pilihan kecap jatuh pada merek Ikan Lele. Menariknya, jika biasanya saya hanya menjumpai merek ini dalam kemasan sachet di warung-warung, kali ini saya menemukan versi botolannya di rak minimarket.
Sementara untuk keju, saya tidak memiliki keterikatan pada merek tertentu. Prinsip saya sederhana: mata akan langsung tertuju pada label harga yang paling ekonomis. Dan pilihan malam itu jatuh pada Prochiz Gold Cheddar.
Alasan utama saya beralih ke stok keju dan kecap sebenarnya berkaitan dengan durasi. Saya selalu punya ambisi agar lauk teman nasi bisa bertahan lebih lama di dapur, sebuah target yang selalu gagal saya penuhi setiap kali membeli sayur pare.
Padahal, hitung-hitungannya sudah coba saya atur sedemikian rupa. Saat membeli pare seharga 10 ribu rupiah di warteg, harapan saya menu tersebut bisa bertahan hingga dua minggu. Faktanya? Dalam satu minggu pun sudah tandas.
Bahkan saat mencoba versi lebih hemat dengan porsi 5 ribu rupiah dan berusaha keras menahan diri, saya tetap gagal menjaganya hingga akhir minggu. Alasannya klise namun jujur: karena rasanya enak, jadi sulit untuk tidak terus menyantapnya.
Dengan stok keju dan kecap seharga 19 ribu ini—yang sebenarnya merupakan menu paling mahal dibandingkan pare—saya menggantungkan harapan besar agar bisa bertahan setidaknya selama dua minggu ke depan. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit diprediksi, seni menghemat menjadi keterampilan yang krusial. Namun, apakah menu kali ini akan benar-benar sesuai ekspektasi?
Mengonsumsi nasi hangat dengan potongan keju kecil-kecil yang dipadukan dengan kucuran kecap manis sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Ini adalah menu praktis, efisien, namun tetap memiliki cita rasa yang unik.
Inspirasi ini mulanya saya dapatkan dari sebuah adegan dalam drama Jepang, yang kemudian kembali saya temui dalam drama Korea. Sebuah alternatif kuliner bagi mereka yang sedang berupaya berdamai dengan kondisi dompet, tanpa harus kehilangan selera makan. Sebuah potret realitas yang barangkali juga dialami banyak orang di luar sana.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar