Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🧀 Strategi Bertahan Hidup dengan Keju dan Kecap

[Artikel 12#, seni bertahan hidup] Pulang selepas meliput kemeriahan Pawai Ogoh-ogoh pada Minggu malam (26/4), saya memutuskan menepi sejenak di sebuah minimarket di kawasan Jolotundo. Ada sebuah misi sederhana yang ingin saya tunaikan malam itu: menghidupkan kembali strategi lama untuk bertahan hidup lewat kombinasi keju dan kecap.

Total belanjaan kali ini menyentuh angka 19 ribu rupiah. Pilihan kecap jatuh pada merek Ikan Lele. Menariknya, jika biasanya saya hanya menjumpai merek ini dalam kemasan sachet di warung-warung, kali ini saya menemukan versi botolannya di rak minimarket.

Sementara untuk keju, saya tidak memiliki keterikatan pada merek tertentu. Prinsip saya sederhana: mata akan langsung tertuju pada label harga yang paling ekonomis. Dan pilihan malam itu jatuh pada Prochiz Gold Cheddar.

Ambisi Durasi Konsumsi

Alasan utama saya beralih ke stok keju dan kecap sebenarnya berkaitan dengan durasi. Saya selalu punya ambisi agar lauk teman nasi bisa bertahan lebih lama di dapur, sebuah target yang selalu gagal saya penuhi setiap kali membeli sayur pare.

Padahal, hitung-hitungannya sudah coba saya atur sedemikian rupa. Saat membeli pare seharga 10 ribu rupiah di warteg, harapan saya menu tersebut bisa bertahan hingga dua minggu. Faktanya? Dalam satu minggu pun sudah tandas.

Bahkan saat mencoba versi lebih hemat dengan porsi 5 ribu rupiah dan berusaha keras menahan diri, saya tetap gagal menjaganya hingga akhir minggu. Alasannya klise namun jujur: karena rasanya enak, jadi sulit untuk tidak terus menyantapnya.

Dengan stok keju dan kecap seharga 19 ribu ini—yang sebenarnya merupakan menu paling mahal dibandingkan pare—saya menggantungkan harapan besar agar bisa bertahan setidaknya selama dua minggu ke depan. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit diprediksi, seni menghemat menjadi keterampilan yang krusial. Namun, apakah menu kali ini akan benar-benar sesuai ekspektasi?

Menikmati Kesederhanaan

Mengonsumsi nasi hangat dengan potongan keju kecil-kecil yang dipadukan dengan kucuran kecap manis sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Ini adalah menu praktis, efisien, namun tetap memiliki cita rasa yang unik.

Inspirasi ini mulanya saya dapatkan dari sebuah adegan dalam drama Jepang, yang kemudian kembali saya temui dalam drama Korea. Sebuah alternatif kuliner bagi mereka yang sedang berupaya berdamai dengan kondisi dompet, tanpa harus kehilangan selera makan. Sebuah potret realitas yang barangkali juga dialami banyak orang di luar sana.

Artikel terkait :

Komentar