Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Rezeki Datang, Pengeluaran Pun Menyusul: Dilema Bulanan di Hari Pahlawan

[Artikel 9#, seni bertahan hidup] Satu hal yang selalu menyenangkan adalah kembali mendapatkan jatah bulanan dari rumah. Bagaimana pun bentuknya, ini adalah rezeki yang patut disyukuri. Seperti biasa, isinya komplet dari mulai persediaan mie bungkus favorit sampai stok kopi sachet yang wajib ada. Harapan saya, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan untuk menikmati rezeki ini.

Dilema Pengeluaran di Luar Rumah

Namun, saya harus akui, saya terus-menerus menghadapi dilema klasik setiap kali harus keluar rumah. Selalu saja ada godaan pengeluaran yang muncul. Dan hari itu, yang bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, 10 November, saya kembali melakukannya.

Pagi itu, saya sudah berangkat dari rumah sejak subuh, sekitar pukul 06.00 pagi. Tujuan saya adalah mendapatkan angel atau sudut pandang terbaik saat meliput acara Kirab Bendera Merah Putih yang dijadwalkan berlangsung di Balai Kota.

Akhir Liputan yang Berujung di Angkringan

Masalahnya muncul setelah liputan selesai. Perut mulai mengirim sinyal darurat. Pulang sekitar pukul 09.00 siang, saya bergerak pulang. Namun, tanpa sadar, langkah saya terhenti di depan sebuah angkringan yang ramai.

Andai saja saya bisa lebih menahan diri, mungkin dengan berpikir, "Tunggu sampai di rumah, kan ada bahan makanan dari jatah bulanan," saya pasti bisa menghemat pengeluaran di pagi itu.

Refleksi Diri dan "Andai Saja"

Tapi ya, semua sudah terjadi. Pada akhirnya, saya sendiri tidak bisa memprediksi dengan pasti apa yang akan terjadi sebelum saya menjalaninya. Imajinasi memang terkadang membuat kita menjadi tidak realistis, sibuk dengan pikiran "andai saja..." yang tak akan pernah mengubah kenyataan.

Yang penting, jatah bulanan sudah aman di rumah, dan hari itu liputan berhasil terlaksana.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini