Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ketika Hidup Mengajarimu: Sakit Sendirian di Usia Sekarang, Sungguh Tak Enak Sama Sekali

[Artikel 55#, kategori kesehatan] Awalnya hanya flu biasa. Namun, esok harinya mendadak sebagian tubuh terasa sangat lelah, menggigil kedinginan, dan bagian perut terasa tidak nyaman. Jangan-jangan ini memang sinyal asam lambung naik yang ikut nimbrung.

Saya tidak menyangka sejak Selasa hingga Rabu, saya harus menjalani penderitaan karena sakit ini. Apalagi, momen ini bertepatan saat Real Madrid bermain pada Rabu dini harinya. Nonton sudah tidak khidmat, bahkan sekadar membuka media sosial pun sudah tidak ada gairah.

Betapa Menyedihkannya Sakit Tanpa Pasangan

Inilah rasanya tidak memiliki pasangan di usia yang sudah tidak muda lagi. Ketika demam mendadak ikut hadir dan membuat kening panas, saya ingin sekali meminta tolong agar dikompres. Sayangnya, tidak ada satu pun yang bisa saya harapkan.

Rabu dini hari terasa seperti sebuah medan pertempuran yang harus saya hadapi sendiri. Setiap kali saya mencoba tidur sebentar, saya selalu terbangun. Bagian tubuh dari lutut hingga kaki terasa seolah-olah baru saja menyelesaikan lari sejauh 10 km. Lelah sekali.

Penderitaan ini semakin lengkap. Flu yang sudah ada merambat menjadi demam. Ditambah lagi, asam lambung saya naik yang membuat perut terasa amat tidak enak. Sampai-sampai saya berpikir, jika hari Kamis saya belum juga sembuh, bisa-bisa rencana main bola saya batal.

Pesan Tegas: Miskin, Jangan Sampai Sakit!

Saya menyadari betapa rapuhnya diri saya dalam keadaan begini. Padahal, jika sedang tidak sakit, saya selalu terlihat tangguh dan bisa melakukan segalanya.

Sakit itu butuh biaya. Mulai dari membeli obat-obatan ringan. Jika parah, kemungkinan terburuknya adalah masuk rumah sakit, dan tentu saja, biayanya akan jauh lebih besar.

Saya langsung berbisik pada tubuh saya sendiri, "Plis, jangan sakit seperti ini. Saya masih miskin, cicilan pinjol masih besar, dan pemasukan kita masih kosong. Ayo, sembuh!"

Saya tidak mengerti mengapa sakit ini mendadak datang. Saya ingat, semenjak bermain bola mini soccer pada Senin malam, saya memang sudah mulai flu saat itu. Bahkan, saat bermain pun konsentrasi saya sudah buyar.

Puncaknya terjadi pada Rabu dini hari, saat Real Madrid berlaga di kandang Liverpool (5/11). Sakitnya pun datang tidak main-main, mulai dari pilek, demam tinggi, asam lambung naik, dan berbagai keluhan lainnya.

Semoga saya bisa memetik hikmah yang berharga dari sakit kali ini. Hidup sendirian itu, saat sakit, memang tidak enak sama sekali.

Gambar : Dibuat dengan AI

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet

📌 Sekali Seumur Hidup: Menjaga Asa Menikah di Usia 40 Tahun