Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

💔 Warteg Andalan Tutup! Cerita Sayur Pare dan Filosofi Bertahan Hidup

[Artikel 8#, kategori tempat] Semenjak jatuh cinta dengan sayur pare, saya semakin intens datang ke warteg dekat rumah. Warteg ini punya tempat tersendiri di hati, bukan cuma karena rasanya yang cocok di lidah, tapi juga kebaikannya yang kadang memberi porsi lebih meskipun saya hanya membeli lima ribu rupiah. Namun hari ini, kejutan kurang menyenangkan datang. Di depan bangunannya, sudah terpampang spanduk besar bertuliskan: DIJUAL. What?!

Saya tidak pernah membayangkan jika warteg pun memiliki masa kedaluwarsa seperti bisnis modern lainnya. Mini market tutup, kedai kopi estetik gulung tikar, atau rumah makan besar yang bangkrut sudah biasa saya lihat dan amati dalam dinamika kota. Tapi warteg? Rasanya jarang sekali.

Tidak ada jawaban yang pasti mengenai alasan penutupannya, apalagi bangunan sederhana tersebut berdiri strategis di pinggir jalan raya. Mungkin harga sewa lahannya naik gila-gilaan, atau bisa jadi sang pemilik memutuskan pensiun dan memilih pulang kampung menikmati masa tua. Ada banyak kemungkinan di balik hilangnya sebuah ruang kuliner rakyat.

Berhenti Makan Sayur Pare

Dengan hilangnya warteg andalan, berarti berhenti pula aktivitas makan harian saya bersama menu sayur pare. Alasan utama saya menyukai sayur pahit ini sebenarnya sederhana: kandungan seratnya yang tinggi.

Selain itu, ada trik bertahan hidup (survival mode) di balik menu ini. Karena potongan parenya dibuat kecil-kecil, durasi makannya bisa saya siasati dan hemat hingga seminggu di kulkas. Ya, dalam fase hidup yang menuntut efisiensi tinggi, porsi makan memang harus dikelola dengan bijak, sedikit demi sedikit.

Memang ada banyak alternatif warteg lain di sekitar kawasan ini. Jaraknya pun masih sangat terjangkau, bahkan bisa ditempuh hanya dengan bersepeda santai.

Namun, ketika tempat andalan mendadak hilang, ada ikatan emosional yang ikut terputus. Mungkin di warteg lain saya bisa membeli makanan dengan nominal harga yang sama, tetapi tentu tidak ada lagi bonus porsi lebih karena status kami masih "orang baru". Kenyamanan dan kehangatan relasi lokal seperti itu tidak bisa dibeli instan.

Berpaling ke Buah Sawo Milik Tetangga

Kehilangan sumber serat dari sayur pare memaksa saya memutar otak. Beruntung, saya baru saja menemukan alternatif pengganti dari alam sekitar, yaitu buah sawo milik tetangga. Kebetulan pohon sawo tersebut sedang lebat-lebatnya.

Menariknya, rumah yang memiliki pohon sawo ini sudah beberapa kali berganti-ganti penghuni. Jadi agak sulit menyebut siapa pemilik asli dari pohon produktif tersebut.

Kebetulan lagi, pemilik rumah yang baru sekarang ternyata tidak terlalu menyukai buah sawo. Mumpung buahnya sedang ranum dan tidak ada yang memanen, daripada berakhir jatuh di jalanan dan menjadi sampah visual, lebih baik saya manfaatkan.

Urusan tutupnya warteg pare andalan akhirnya bisa diakali dengan kehadiran sawo gratis ini. Mengenai langkah berikutnya apabila musim buah sawo ini sudah habis? Ah, itu urusan nanti, biar dipikirkan sambil jalan. Yang penting hari ini dapur tetap mengepul dan kebutuhan serat tetap terpenuhi.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet