Pria Tidak Berdaya
[Artikel 8#, kategori tempat] Semenjak jatuh cinta dengan sayur pare, saya semakin intens datang ke warteg dekat rumah. Warteg ini punya tempat tersendiri di hati, bukan cuma karena rasanya yang cocok di lidah, tapi juga kebaikannya yang kadang memberi porsi lebih meskipun saya hanya membeli lima ribu rupiah. Namun hari ini, kejutan kurang menyenangkan datang. Di depan bangunannya, sudah terpampang spanduk besar bertuliskan: DIJUAL. What?!
Saya tidak pernah membayangkan jika warteg pun memiliki masa kedaluwarsa seperti bisnis modern lainnya. Mini market tutup, kedai kopi estetik gulung tikar, atau rumah makan besar yang bangkrut sudah biasa saya lihat dan amati dalam dinamika kota. Tapi warteg? Rasanya jarang sekali.
Tidak ada jawaban yang pasti mengenai alasan penutupannya, apalagi bangunan sederhana tersebut berdiri strategis di pinggir jalan raya. Mungkin harga sewa lahannya naik gila-gilaan, atau bisa jadi sang pemilik memutuskan pensiun dan memilih pulang kampung menikmati masa tua. Ada banyak kemungkinan di balik hilangnya sebuah ruang kuliner rakyat.
Dengan hilangnya warteg andalan, berarti berhenti pula aktivitas makan harian saya bersama menu sayur pare. Alasan utama saya menyukai sayur pahit ini sebenarnya sederhana: kandungan seratnya yang tinggi.
Selain itu, ada trik bertahan hidup (survival mode) di balik menu ini. Karena potongan parenya dibuat kecil-kecil, durasi makannya bisa saya siasati dan hemat hingga seminggu di kulkas. Ya, dalam fase hidup yang menuntut efisiensi tinggi, porsi makan memang harus dikelola dengan bijak, sedikit demi sedikit.
Memang ada banyak alternatif warteg lain di sekitar kawasan ini. Jaraknya pun masih sangat terjangkau, bahkan bisa ditempuh hanya dengan bersepeda santai.
Namun, ketika tempat andalan mendadak hilang, ada ikatan emosional yang ikut terputus. Mungkin di warteg lain saya bisa membeli makanan dengan nominal harga yang sama, tetapi tentu tidak ada lagi bonus porsi lebih karena status kami masih "orang baru". Kenyamanan dan kehangatan relasi lokal seperti itu tidak bisa dibeli instan.
Kehilangan sumber serat dari sayur pare memaksa saya memutar otak. Beruntung, saya baru saja menemukan alternatif pengganti dari alam sekitar, yaitu buah sawo milik tetangga. Kebetulan pohon sawo tersebut sedang lebat-lebatnya.
Menariknya, rumah yang memiliki pohon sawo ini sudah beberapa kali berganti-ganti penghuni. Jadi agak sulit menyebut siapa pemilik asli dari pohon produktif tersebut.
Kebetulan lagi, pemilik rumah yang baru sekarang ternyata tidak terlalu menyukai buah sawo. Mumpung buahnya sedang ranum dan tidak ada yang memanen, daripada berakhir jatuh di jalanan dan menjadi sampah visual, lebih baik saya manfaatkan.
Urusan tutupnya warteg pare andalan akhirnya bisa diakali dengan kehadiran sawo gratis ini. Mengenai langkah berikutnya apabila musim buah sawo ini sudah habis? Ah, itu urusan nanti, biar dipikirkan sambil jalan. Yang penting hari ini dapur tetap mengepul dan kebutuhan serat tetap terpenuhi.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar