Pria Tidak Berdaya
[Artikel 2#, kategori Piala Dunia] Gelaran sepak bola terakbar di planet bumi kembali bergulir. Sepanjang ingatan saya sejak pertama kali menyaksikan turnamen ini pada edisi tahun 1998, saya tercatat baru sekali menuliskannya di ruang digital, yaitu pada Piala Dunia 2022 lalu. Maka, ini menjadi momen kedua kalinya saya ikut membicarakan riuh rendah kompetisi ini di halaman blog.
Sejujurnya, dua bulan sebelum genderang turnamen ditabuh, tidak ada rasa antusiasme yang berlebih di dalam diri saya. Entah mengapa atmosfernya terasa biasa saja, meskipun dua tim negara jagoan yang saya unggulkan, Brasil dan Portugal, masih tetap ikut berlaga.
Namun, segalanya berubah saat peluit kick-off pertandingan pertama resmi ditiup pada 11 Juni kemarin. Saya mulai benar-benar menaruh perhatian. Turnamen yang dijadwalkan berlangsung hingga 19 Juli ini rupanya sangat seksi jika melihat angka statistik dan views yang berseliweran di media sosial.
Faktor penentu lainnya adalah masalah waktu. Jam tayang pertandingan yang banyak berlangsung pada dini hari ternyata sangat klop dengan jadwal aktivitas rutin saya di depan layar komputer. Sambil menyelam minum air, sembari menyelesaikan pekerjaan, layar monitor pun ikut menampilkan jalannya laga.
Untuk melengkapi dokumentasi kali ini, saya merangkum dua fakta besar yang membuat Piala Dunia 2026 terasa sangat berbeda, bahkan cenderung ambisius dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Bagi kita yang sudah terbiasa menyaksikan format ketat 32 tim sejak tahun 1998, melihat 48 negara bertanding di panggung yang sama rasanya agak janggal sekaligus luar biasa. Kebijakan ini merupakan sebuah lompatan besar—atau mungkin bisa dibilang sebagai perjudian terbesar—dalam sejarah panjang FIFA.
Secara realistis, jumlah pertandingan yang melonjak drastis menjadi 104 laga tentu akan sangat menguras fisik para pemain dan emosi para penonton. Durasi turnamen pun menjadi terasa sangat panjang. Namun dari sudut pandang apresiatif, format baru ini berhasil membuka pintu mimpi bagi negara-negara yang sebelumnya hanya bisa menjadi pemandu sorak di layar kaca. Selalu ada ruang untuk lahirnya dongeng dan kejutan baru, dan bukankah itu romansa sepak bola yang sebenarnya?
Catatan sejarah lain yang tidak kalah mentereng dari Piala Dunia 2026 adalah kolaborasi tiga negara raksasa sebagai tuan rumah bersama: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Mengelola logistik, regulasi, hingga perjalanan tim dari ujung utara Kanada di Vancouver hingga ke area selatan di Mexico City tentu bukan perkara mudah. Namun sejauh ini, semuanya mampu disajikan dengan begitu megah.
Apresiasi khusus tentu harus disematkan kepada Meksiko. Edisi tahun ini resmi menasbihkan mereka sebagai negara pertama di dunia yang berhasil menjadi tuan rumah Piala Dunia sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1970, 1986, dan 2026. Stadion legendaris sekelas Estadio Azteca kembali bersolek demi menjadi saksi bisu transisi sepak bola era modern. Sementara itu, Amerika Serikat memamerkan kemegahan stadion-stadion NFL mereka yang masif, dan Kanada akhirnya merasakan atmosfer Piala Dunia pria pertama mereka sebagai penyelenggara.
Tulisan yang tersaji di sini mungkin tidak akan sedalam ulasan para jurnalis olahraga atau pengamat taktik di media arus utama. Ini hanyalah sebuah sudut pandang realistis dari seorang blogger yang mengagumi bagaimana dunia bisa disatukan oleh sebuah bola sepak, di tengah segala kerumitan logistik dan perubahan format kompetisinya.
Saya sengaja merangkum tulisan ini sebagai pengingat personal. Kelak, mungkin empat tahun lagi saat momen Piala Dunia berikutnya kembali menyapa, atau beberapa tahun mendatang ketika saya iseng membuka kembali arsip blog ini, saya akan tersenyum. Saya akan teringat bahwa di satu keheningan dini hari pada tahun 2026, saya pernah meluangkan waktu untuk mencatat sejarah besar ini, sembari merenungkan di mana posisi saya sedang berdiri saat dunia luar sedang gegap gempita.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar