Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

⚽ Akhirnya Kembali Merumput Setelah Seminggu Dijajah Diare

[Artikel 25#, kategori mini soccer] Bagi sebagian orang, melewatkan seminggu tanpa olahraga mungkin hal yang biasa. Namun bagi saya, absen selama satu pekan dari lapangan hijau rasanya seperti ada sebagian jiwa yang hilang. Maklum, jadwal main bola—atau tepatnya mini soccer—sudah menjadi rutinitas wajib dua kali seminggu. Kalaupun terpaksa absen, paling banyak hanya sekali dalam setahun, itu pun biasanya karena ada urusan keluarga yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan.

Namun, minggu lalu rekor kehadiran saya rusak total. Bukan karena cedera otot atau kesibukan pekerjaan, melainkan karena musuh tak terlihat yang sukses membuat saya pasrah tanpa daya: diare.

Tragedi ini dimulai pada Senin pagi, 15 Juni. Padahal, malam harinya adalah jadwal rutin saya untuk merumput. Alih-alih melakukan pemanasan di lapangan, hari Senin saya justru habis untuk bolak-balik ke kamar mandi. Panggilan alam yang satu ini benar-benar tidak bisa dinegosiasi. Jadwal main Senin malam pun gagal total.

Yang membuat saya tambah jengkel adalah hari selasanya, 16 Juni. Sebenarnya ada agenda main di salah satu lapangan mini soccer baru di kota Semarang. Sebagai orang di balik layar yang juga mengelola blog lain untuk urusan pekerjaan, insting blogging saya langsung meronta-ronta. Seharusnya momen tersebut bisa sekalian menjadi bahan tulisan yang segar. Apa daya, kondisi fisik masih sangat lemas. Saya hanya bisa meratapi nasib di dekat toilet.

Penderitaan itu berlanjut hingga Kamis malam. Jadwal rutin kedua terpaksa dilewatkan lagi. Total ada tiga momen merumput yang hilang begitu saja dalam sepekan. Rasanya campur aduk antara kesal dan ngenes, tapi ya... mau bagaimana lagi.

Drama Menuju Momen Comeback

Setelah seminggu penuh perjuangan untuk pulih, hari Senin berikutnya, 22 Juni, akhirnya tiba. Perasaan menggebu-gebu langsung membuncah sejak pagi hari. Akhirnya, saya bisa kembali memakai sepatu bola, mencium aroma rumput, dan mengejar si kulit bundar. Stamina mungkin belum pulih 100 persen, tetapi semangat saya sudah melompat ke angka 200 persen.

Namun, semesta tampaknya punya cara unik untuk menyambut kembalinya saya ke dunia persilatan mini soccer.

Malam hari saat perjalanan menuju lapangan, langit Semarang mendadak tumpah. Hujan deras langsung mengguyur. Sambil mengayuh pedal sepeda dalam balutan jas hujan, saya cuma bisa membatin galau. "Ya ampun... apakah ini upacara sambutan dari alam buat saya?" Ada sedikit rasa khawatir, baru saja sembuh dari diare, masa langsung dihajar masuk angin karena kehujanan?

Rasa galau itu langsung menguap begitu saya tiba di lokasi. Yeah, akhirnya sampai juga di lapangan. Menariknya, saat ingin mengekspresikan rasa bahagia sambil kehujanan, saya baru sadar kalau pagar akses menuju lapangan masih ditutup rapat. Sepertinya saya menjadi pemain yang pertama kali datang malam itu.

Untunglah ibu penjaga lapangan sigap berada di sana sehingga tak lama kemudian pagar dibuka. Sambil menuntun sepeda menuju area parkir, beberapa rekan setim lainnya juga mulai berdatangan satu per satu.

Solidaritas dan Ejekan Teman Setim

Sambil menunggu seluruh anggota tim berkumpul, kami memilih menunggu di luar lapangan, tepatnya di fasilitas tempat duduk yang biasa disediakan sebelum masuk ke area bermain.

Kami mengobrol santai di sana sambil ditemani suara rintik hujan. Beberapa teman tampak bertanya dengan nada peduli mengenai kondisi saya, sementara sebagian lagi langsung menjadikannya bahan obrolan santai yang penuh tawa.

Ya, namanya juga tongkrongan bola. Sisi melankolis dan penuh simpati itu tidak pernah bertahan lama sebelum akhirnya berubah menjadi sesi saling goda.

"Lha kowe wingi nang ngendi kok absen?" (Lha kamu kemarin ke mana kok absen?) "Loro opo? Mencret?"

Tebakan mereka tepat, dan seketika itu juga saya langsung menjadi sasaran ejekan. Kata mereka, sakit yang saya alami sama sekali tidak ada keren-kerennya. Minimal terlihat sedikit elite seperti cedera hamstring, otot ketarik, atau cedera olahraga lainnya. Ini malah absen karena mencret alias diare.

Malam itu, di bawah sisa-sisa guyuran hujan Semarang, saya kembali berjibaku di posisi saya, menahan gempuran lawan yang ingin mencetak gol. Napas terasa mengos-ngosan dan agak kedodoran, tetapi hati rasanya sangat penuh dan puas.

Beruntung, seiring jalannya pertandingan, hujan pun perlahan reda. Sebuah momen comeback yang renyah, sedikit tragis, penuh tawa, dan yang pasti membuat saya kembali sadar betapa berharganya hal-hal sederhana yang biasa kita jalani setiap minggu.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Istilah Jam Kerja Hotel; Split atau Double Shift

Harga Kopi Sachet Nescafe Classic Naik ?