Pria Tidak Berdaya
[Artikel 56#, kategori kesehatan] Kehilangan warteg andalan itu rasanya mirip seperti kehilangan rutinitas penting yang bikin hari-hari jadi pincang. Sejak tempat makan langganan saya itu resmi tutup (cerita sedihnya sempat saya tulis di sini), ada satu hal besar yang hilang dari piring makan saya: pasokan serat harian dari tumis sayur pare.
Bagi sebagian orang, pare mungkin dihindari karena pahitnya. Tapi bagi saya, pare adalah andalan. Ketika warteg itu tutup, saya sempat bingung harus mencari alternatif sumber serat apa yang praktis dan bisa dinikmati setiap hari tanpa harus repot memasak sendiri di dapur.
Siapa sangka, jawaban dari masalah serat ini ternyata tidak datang dari pasar, melainkan dari atas kepala saya sendiri. Tepatnya dari pohon sawo milik tetangga.
Pohon sawo itu sebenarnya sudah berdiri di sana lama sekali. Bertahun-tahun. Selama itu pula saya hanya menganggapnya sebagai bagian dari pemandangan sekitar rumah, tanpa pernah benar-benar melirik buahnya.
Semua berubah dalam dua bulan terakhir. Pemiliknya ternyata tidak terlalu suka mengonsumsi buah sawo. Alih-alih dibiarkan matang di pohon, sawo-sawo itu lebih sering jatuh sendiri, pecah di aspal, dan berakhir menjadi sampah jalanan. Sayang sekali, pikir saya.
Daripada mubazir, saya pun mulai rajin memetiknya—tentu saja setelah mendapat 'lampu hijau' dari sang tetangga. Biasanya saya simpan saja di tempat biasa, ditunggu dengan sabar sekitar 3 hari sampai matang alami. Dan dari sanalah, petualangan baru dimulai.
Karena sudah lama sekali tidak makan sawo sejak zaman sering makan pare, lidah saya langsung kaget. Ternyata manisnya sawo tetangga ini enak sekali, apalagi setelah dikupas dan dimasukkan ke dalam kulkas. Dingin, manis, dan legit.
Karena terlalu bersemangat menikmati "piala kemenangan" dari buah gratisan ini, saya pun khilaf. Dalam satu sesi santai, saya langsung menghajar 5 buah sawo sekaligus tanpa jeda!
Saya lupa satu hal: tujuan awal saya mencari sawo adalah karena kandungan seratnya yang melimpah. Dan siang itu, teori kesehatan tersebut langsung terbukti secara instan dan brutal di tubuh saya.
Sialnya, perut saya kaget menerima serbuan serat sebanyak itu secara mendadak. Alhasil, sorenya saya sukses mencret-mencret. Isi perut benar-benar terkuras habis tanpa sisa. Memang rasanya lega luar biasa setelahnya, tapi efek sampingnya bikin keringat dingin mengucur dan badan langsung lemas tak bertenaga. Sebuah perkenalan kembali yang sangat berkesan sekaligus bikin kapok untuk serakah.
Kehilangan warteg langganan memang memotong satu akses kenyamanan. Namun, dua bulan hidup berdampingan dengan panen sawo gratisan ini menyadarkan saya pada satu hal realistis: alam atau lingkungan sekitar kita sering kali sudah menyiapkan subtitusi, tinggal seberapa peka kita melihatnya—dan seberapa tahu diri kita saat mengonsumsinya.
Sekarang, saya sudah tobat dan tahu takaran. Menikmati sawo dingin dari kulkas tetap jadi favorit, tapi cukup satu atau dua buah saja sehari. Ini adalah bentuk adaptasi yang manis, sedikit mules, sekaligus berkah bertetangga yang berhasil menyelamatkan kebutuhan serat harian saya.
Bagaimana denganmu? Pernah punya pengalaman "overdosis" buah sehat sampai bikin lemas seperti saya?
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar