Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🚽 Mengaitkan Diare 4 Hari, Momen Tahun Baru Hijriah, dan Mitos Tulang Wangi

[Artikel 57#, kategori kesehatan] Saya tidak menyangka bisa jatuh sakit dalam durasi yang lumayan lama dari biasanya. Padahal, belum lama ini saya sempat berseloroh dalam hati saat perjalanan pulang bermain bola. Saya membatin agar jangan sampai sakit dalam waktu dekat. Maklum, selain status masih single, kondisi ekonomi juga sedang pas-pasan.

Namun, takdir berkata lain di bulan Juni ini. Datangnya penyakit ini bahkan bertepatan dengan momen spiritual Tahun Baru Hijriah pada tanggal 16 Juni kemarin, hingga membuat saya otomatis mengaitkan kedua hal tersebut.

Di saat orang-orang sibuk menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah dengan penuh khusyuk—mungkin ada yang ikut pawai obor, refleksi akhir tahun, atau sibuk membuat resolusi mulia—saya justru punya cara spiritual yang sangat... radikal. Bukan duduk bersila di atas sajadah sepanjang malam, melainkan bolak-balik dengan langkah seribu menuju sebuah ruangan kecil berukuran 2x2 meter. Ya, kamar mandi.

Diare 4 hari kemarin sukses menguras habis tubuh saya. Sungguh sebuah grand opening tahun baru yang di luar prediksi BMKG kehidupan saya.

Rekor Absen Terlama dari Lapangan Mini Soccer Semarang

Selama hidup dan tinggal di Kota Semarang, saya memang termasuk jarang sakit. Jika tubuh drop, riwayatnya tidak jauh-jauh dari maag atau pilek. Riwayat diare memang pernah ada, tetapi intensitasnya tidak sesering dua kondisi sebelumnya.

Entah kenapa kali ini rasanya diare yang datang sangat berbeda. Sebagai orang yang sedia payung sebelum hujan, saya tentu sudah menyetok obat andalan: Entrostop. Biasanya setelah meminum obat ini, kondisi tubuh akan normal kembali dalam waktu 2 hari. Namun kali ini, obat tersebut sama sekali tidak mempan. Bahkan, untuk sekadar duduk di depan layar komputer dan menulis pun rasanya sangat sulit.

Penyakit ini mulai menyerang sejak hari Senin, 15 Juni. Hari di mana seharusnya menjadi jadwal rutin saya bermain mini soccer. Mau tidak mau, saya harus absen.

Ternyata penderitaan tidak berhenti di situ. Saya juga harus absen di hari berikutnya, Selasa. Padahal saya sudah sangat menunggu momen tersebut karena tim hari Kamis (Sanmaru FC) diajak untuk menjajal lapangan baru di Semarang. Karena kondisi fisik yang masih belum stabil, saya terpaksa absen lagi di hari Kamis yang merupakan jadwal rutin Sanmaru FC.

Ini adalah kali pertama saya absen penuh dari semua jadwal bermain dalam sepekan. Semenjak beralih dari futsal ke komunitas mini soccer pada bulan September 2025 lalu, ini adalah momen terburuk yang saya alami. Sedih rasanya hanya bisa berdiam diri tanpa bisa berjibaku di lapangan, tetapi memaksakan diri justru akan memperparah keadaan.

Apalagi olahraga ini sifatnya komunitas yang bergerak atas dasar solidaritas, bukan klub profesional yang memiliki dana kas besar. Agak ngeri juga membayangkan jika sampai harus masuk rumah sakit, ditambah lagi kondisi kepesertaan BPJS saya saat ini sedang tidak aktif.

Ritual "Pembersihan" yang Terlalu Literal

Sebelum jatuh sakit, saya sempat membaca sebuah percakapan menarik di platform Threads yang membahas tentang mitos Tulang Wangi. Saat membaca utas tersebut, saya hanya menganggapnya sebagai hiburan seru tanpa benar-benar memercayainya.

Namun jika dipikir-pikir kembali setelah kejadian ini, obrolan yang mengaitkan fenomena tersebut dengan tahun baru rasanya menjadi sangat nyata. Tahun Baru Hijriah sering dianggap sebagai momen pembersihan diri, waktu untuk membuang semua hal buruk di masa lalu agar siap menerima berkah yang baru.

Hanya saja, tampaknya sistem metabolisme tubuh saya menerjemahkan petuah spiritual itu secara terlalu harfiah, alias literal banget. Tanpa ampun, lambung dan usus saya melakukan factory reset besar-besaran. Semua sisa makanan, energi negatif, mungkin termasuk dosa-dosa kuliner masa lalu, dipaksa keluar sampai bersih tanpa sisa selama empat hari berturut-turut.

Rasanya? Jangan ditanya. Lemasnya sampai ke ubun-ubun. Jangankan untuk memikirkan resolusi setahun ke depan, untuk berjalan dari kasur ke pintu kamar mandi saja rasanya seperti sedang mendaki Gunung Merbabu.

Jika mencoba mencari akar masalahnya secara realistis, saya menduga diare ini dipicu oleh aktivitas hari Minggu pagi sebelumnya. Saat itu ada kegiatan kerja bakti di lingkungan tempat tinggal yang kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama warga. Mungkin dari sanalah tubuh saya mulai merespons energi yang berbeda.

Konspirasi Mistis Si "Tulang Wangi" dan Malam Satu Suro

Entah apakah benar ada hubungannya dengan penyakit ini atau memang sudah fasenya saja saya harus tumbang. Kenyataannya, stok obat yang saya miliki sampai habis tak tersisa, sementara gejolak di dalam perut terus menerus terjadi hingga melumpuhkan aktivitas harian.

Jika ditelusuri lebih lanjut, mitos Tulang Wangi dalam kepercayaan Jawa memang sering dikaitkan dengan malam Satu Suro (yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam). Momen di mana garis batas antara dunia nyata dan dunia "seberang" konon sedang tipis-tipisnya.

Bagi yang belum tahu, orang yang disebut memiliki "tulang wangi" atau darah manis dipercaya mempunyai daya tarik spiritual yang sangat kuat bagi makhluk halus. Di malam yang sakral tersebut, energi semesta sedang bergolak hebat. Efeknya bagi pemilik tulang wangi adalah benturan energi yang bisa membuat tubuh mendadak drop, lemas, atau jatuh sakit tanpa alasan medis yang jelas.

Sambil memegangi perut yang melilit, saya sempat membatin jenaka: “Oalah... apa jangan-jangan saya ini termasuk golongan manusia bertulang wangi ya? Makanya makhluk astronomis di luar sana sedang mengirim energi, lalu sinyalnya tabrakan di dalam usus saya?”

Ya, namanya juga orang sedang sakit dan lemas, mencocoklogikan diare dengan konspirasi mistis terasa seperti hiburan yang lumayan di kala duka. Meskipun kalau jujur pada diri sendiri, ini mungkin murni karena faktor sambal warung makan sebelah yang kemarin sore memang agak "magis" pedasnya.

Konsultasi dengan "Asisten Dokter" Berbasis AI

Dalam proses pemulihan yang mandiri ini, saya akhirnya dibantu oleh teknologi kecerdasan buatan (AI). Karena platform yang paling praktis dan cepat diakses adalah aplikasi WhatsApp, saya memanfaatkan Meta AI untuk berkonsultasi.

Lewat obrolan digital tersebut, saya mendapatkan banyak bantuan, mulai dari informasi mengenai jenis obat yang harus dikonsumsi hingga tips membuat larutan air gula garam (oralit rumahan) agar dehidrasi di dalam tubuh bisa diatasi lebih cepat.

Solusi alternatif yang sangat saya butuhkan, mengingat kondisi dompet saat ini juga sedang kembang kempis. Beberapa rekan di komunitas bola sebenarnya ada yang menunjukkan kepedulian, namun saran-saran yang diberikan tanpa bantuan langsung terasa agak sulit untuk dieksekusi.

Ada yang merekomendasikan untuk membeli obat ini-itu, lalu menyarankan makan ini-itu. Nah, masalah utamanya kembali lagi ke kondisi keuangan yang sedang sulit. “Mbok ya belikan sekalian begitu, haha,” bisik saya dalam hati saat mengetik ucapan terima kasih atas kepedulian mereka di grup percakapan.

Hikmah di Balik Lemas

Namun, setelah badai di dalam perut ini akhirnya mereda dan tubuh mulai bisa diajak kompromi kembali hari ini, saya justru merasa bersyukur.

Sakit selama empat hari kemarin memaksa saya untuk stop total dari segala keriuhan aktivitas. Saya dipaksa untuk istirahat, tidur lebih lama, dan benar-benar mendengarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Selain harus absen bermain bola, saya juga terpaksa tidak menulis artikel blog selama beberapa hari. Yah, mau bagaimana lagi.

Mungkin ini cara semesta mengingatkan saya agar tidak terlalu "ngegas" di awal tahun. Tubuh yang bersih (dan sempat kosong) ini sekarang rasanya jadi lebih ringan. Siap untuk diisi kembali dengan semangat baru, ide-ide tulisan yang lebih segar, dan tentu saja... komitmen untuk lebih berhati-hati dalam memilih level kepedasan makanan.

Selamat Tahun Baru Hijriah buat kawan-kawan semua. Semoga tahun ini membawa berkah, kesehatan, dan perut yang selalu aman damai sentosa! Dan semoga saya bisa lekas pulih sepenuhnya agar kembali dalam kondisi normal.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Istilah Jam Kerja Hotel; Split atau Double Shift

[Review] One Day, Film Korea Tentang Pertemuan Pria dengan Wanita Koma yang Menjadi Roh