Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo, Juli 2025: Titik Nol dan Harapan Baru

[Artikel 153#, kategori catatan] Juli tiba, membawa udara baru yang seakan berbisik, “Ayo, mulai lagi.” Bulan Juni kemarin meninggalkan jejak yang sulit dilupain. Tawa keluarga besar yang datang ke Semarang untuk IdulAdha masih terngiang. 

Dapur penuh makanan lezat—yang bikin timbangan ngeluh—dan momen seru yang bikin waktu terasa cepat berlalu, meski capeknya juga nggak main-main. Pemilik rumah, maksudku keluarga besar, benar-benar membawa warna dan kehangatan yang bikin hati penuh.

Tapi sekarang, kembali ke titik nol. Juli membentang luas di depan, seperti jalan panjang yang penuh tanda tanya. Apa yang menanti? Cerita bahagia atau ujian baru? Entah apa pun itu, bulan ketujuh ini istimewa. 

Ini bulan kelahiranku, Cancer yang katanya penuh perasaan. Dan di tengah semua ketidakpastian, aku cuma ingin satu hal: tetap sehat dan bahagia.

Berlari di Lapangan, Berlari dari Waktu

Ritme hidupku akhir-akhir ini makin kencang. Ajakan main mini soccer makin sering, sampai kadang lupa kalau usia nggak lagi muda. Sebentar lagi kepala empat, angka yang terasa seperti garis batas. Di usia ini, aku sering bertanya: aku sedang lari ke mana?  

Aku pernah bilang ke si bungsu—dan mungkin ke beberapa teman dekat—kalau di usia 40 nanti, aku ingin mencari peluang baru. Bukan cuma soal pindah dari rumah yang selama ini kutinggali, tapi lebih ke soal hati dan jiwa. 

Bukan karena terusir atau merasa bersalah, tapi ada suara dalam diri yang bertanya, “Sampai kapan?” Tinggal di rumah yang penuh kenangan, tapi kadang merasa seperti beban. 

Keluarga si bungsu terus bertumbuh—momongan baru, karir yang cemerlang—sementara aku? Masih di sini, berjuang dari nol, dengan dompet yang sering kali cuma berisi harapan.

Bayang-Bayang Kegagalan dan Secercah Mimpi

Jujur, kadang aku merasa gagal jadi manusia yang “utuh”. Di usia yang seharusnya sudah punya keluarga, anak-anak lucu, dan karir mapan, realitaku jauh dari itu. 

Belum lagi jadi kakak yang baik untuk adik-adik yang punya masalahnya sendiri, atau anak yang berbakti untuk Bapak yang masih harus banting tulang di usianya yang tak lagi muda. Setiap melihat Bapak bekerja, ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.

Tapi di balik semua itu, Juli ini adalah harapan. Bulan kelahiran selalu terasa seperti titik balik. Aku ingin hambatan-hambatan yang selama ini menaungi hidupku perlahan terangkat. 

Pekerjaan yang kugeluti, semoga membawa rezeki yang lebih lapang. Badan yang terus bergerak—dari lapangan futsal sampai keseharian—semoga selalu diberi kesehatan dan umur panjang.

Selamat Datang, Juli

Juli, aku menyapamu dengan hati terbuka. Aku nggak tahu apa yang kau bawa, tapi aku siap melangkah. Mungkin di jalan baru ini, aku akan menemukan takdir yang lebih cerah. 

Mungkin di antara langkah-langkah kecilku, ada mimpi yang akhirnya jadi nyata. Yang jelas, aku ingin menjalani hari-hariku dengan penuh syukur, meski dari titik nol sekalipun.

Selamat datang, Juli. Mari kita tulis cerita baru bersama.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet

📌 Sekali Seumur Hidup: Menjaga Asa Menikah di Usia 40 Tahun