Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Melawan Waktu dan Kata Hati


Memang benar, keluar dari zona nyaman itu tidak enak. Seperti yang saya alami malam ini (24/9). Sendiri, sepi dan seolah mati rasa *kaki kebanyakan duduk. Disini, kantor dotsemarang, saya masih sendiri. Mencoba melawan waktu dan hati terkecil yang berkata, *ayoo pulang*.

Melawan waktu itu seperti terkekang oleh kenikmatan. Mana ada pekerjaan yang sampai lembur harus dikantor kecuali orang bodoh yang terus meyakini keyakinan yang masih gamang alias tidak tentu. Melawan waktu ibarat juga, meninggalkan waktu makan malam. Padahal siang belum ada makan kecuali teh manis sambil ditemani para gadis.

Terkahir, melawan kata hati. Ini paling berat dalam sebuah karir seseorang. Bagaimana kasur memanggil untuk ditiduri. Bagaimana rasa sendiri yang menyelimuti yang menginginkan kehadiran banyak orang disekitar.

Semua itu saya lawan malam ini. Demi apa....??

Demi dotsemarang, itu saja.

Demi buku-buku yang bertebaran dilantai kantor ini

Demi pekerjaan yang kini tidak sesederhana beberapa waktu lalu.

Demi sebuah tanggung jawab yang teremban.

Entahlah, ...

Apakah ini benar atau sekedar halusinasi malam ini.

Sampai kapan bertahan dengan kejujuran lewat tulisan.

Saya sangat lelah sebenarnya. Ingin merasakan indahnya mimpi diatas meski saya tahu harus memulainya dari bawah.

**Tulisan oleh orang yang merasa kesepian dan kegundahan yang tak kunjung reda.
Sebenarnya buat apa melakukan banyak hal buat kota ini meski kota ini tidak banyak memberi apa-apa.

...

Diedit kembali tanggal 10 September 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini